SEMARANG, beritajateng.tv – Menantu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Erina Sofia Gudono, turut pengamat politik soroti di tengah carut-marut putusan Mahkamah Konsitusi (MK).
Unggahan jendela pesawat jet Gulfstream di akun Instagram @erinagudono itu memantik amarah warganet. Pasalnya, Erina menggunggah cerita tersebut saat unjuk rasa soal #KawalPutusanMK sedang ramai di publik.
Terlebih, suami Erina sekaligus putera bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, sebelumnya tergadang-gadang maju Pilkada 2024 melalui putusan MK.
BACA JUGA: Baru Masuk Kuliah, Ramai Seruan Keluarkan Erina Gudono dari Univeristy of Pennsylvania
Menanggapi fenomena itu, pengamat politik Universitas Diponegoro, Wahid Abdulrahman, menyebut Erina dengan julukan tone deaf.
“Potret yang Kaesang dan istrinya lakukan kan semacam tone deaf, begitulah bahasa ngetrennya. Sesuatu yang sense of crisis-nya gak ada,” ujar Wahid, Minggu, 25 Agustus 2024.
Pasalnya, tutur Wahid, Erina justru menunjukkan sisi glamour-nya di saat masyarakat prihatin dengan situasi demokrasi saat ini.
Kaesang dan Erina rusak citra Jokowi
Wahid menilai Jokowi gagal membangun dinasti keluarga yang selama ini bercitra sederhana.
“Ini pertanda bahwa memang Pak Jokowi menurut saya gagal membangun sebuah dinasti keluarga, yang selama ini dicitrakan sederhana dan merakyat,” tegas Wahid.
Atas hal itu, sebagian masyarakat menganggap keluarga Jokowi nirempati.
“Ini bisa kehilangan empati atau nirempatilah dalam masyarakat. Apalagi sampai sekarang tidak ada penjelasan lebih jauh. Efek negatif ini sekarang lebih pada Jokowi dan keluarganya,” terangnya.
BACA JUGA: Ramai soal Aroma Tak Sedap Menantu Presiden, Ini 8 Cara Efektif Hilangkan Bau Ketek yang Membandel
Sebab, kata Wahid, Jokowi membangun citra diri sebagai pemimpin yang sederhana. Namun nahas, Wahid menyayangkan hal itu rusak seketika oleh perilaku putera dan menantunya sendiri.
“Selama ini, citra pemimpin sederhana yang dekat dengan masyarakat, kemudian rusak oleh perilaku anak dan menantunya,” tegas Wahid.
Terlebih, posisi Kaesang sudah Jokowi persiapkan layaknya Wakil Presiden RI terpilih, Gibran Rakabuming Raka.
“Selama ini Jokowi merakyat, sederhana, kemudian sebaliknya dia gagal membangun situasi yang sama di anak dan menantunya. Padahal sudah siapkan Kaesang untuk Pilkada, tapi gagal. Kegagalan itu diiringi dengan perilaku yang menurut saya sangat buruk,” beber Wahid.
Bagaimana efeknya di Pilkada 2024?
Menanggapi apakah hal itu berimbas pada efek elektoral dalam Pilkada 2024, Wahid masih menunggu segala sesuatu yang terjadi saat masa kampanye berlangsung.
“Saya melihat efek elektoralnya akan sangat kelihatan saat masa kampanye. Sekarang masih proses kandidasi, seleksi di internal parpol. Proses riilnya kan di pemilihan, sehingga faktor masa kampanye penting,” ucapnya.
Dalam hal itu, bagaimana figur dan paslon yang mendapat endorsemen Jokowi sangatlah penting. Utamanya jaringan politik yang mereka miliki.
BACA JUGA: Dapat Tudingan Bohong soal Columbia University, Aib Erina Gudono Warganet Kuliti Habis-habisan!
Sebab, Jokowi masih menjadi episentrum politik di Jawa Tengah, dalam hematnya.
“Jokowi masih jadi episentrum politik di Jawa Tengah, jaringannya cukup banyak, cukup masif. Di saat yang sama mengubah citra negatif itu penting,” tegas Wahid. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




