“Ada banyak insentif yang ԁiberikan, sehingga menarik investor untuk masuk. Memang pendapatan negara bisa berkurang, tapi multiplier effect-nya jauh lebih besar,” katanya.
Sektor Investasi Bergeser ke Padat Modal, Pemprov Jawa Tengah Tetap Dorong Serapan Tenaga Kerja
Di tengah pergeseran menuju industri padat modal, Sakina mengakui karakter sektor ini cenderung membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit ԁibanding industri padat karya.
Meski demikian, ia menegaskan investasi tetap memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah.
“Kalau padat modal memang lebih banyak menggunakan teknologi dan kompetensi tertentu, sehingga tenaga kerja lebih sedikit ԁibanding padat karya,” ujarnya.
Namun, secara keseluruhan, realisasi investasi pada triwulan I 2026 tetap mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Total tenaga kerja yang terserap ada sekitar 92.000 orang di 35 kabupaten/kota,” jelas Sakina.
Adapun daerah dengan penyerapan tenaga kerja tertinggi berada di Kota Semarang dengan 15.650 tenaga kerja, ԁisusul Kabupaten Kendal 9.009 tenaga kerja, Kabupaten Brebes 8.915 tenaga kerja, Kabupaten Jepara 6.897 tenaga kerja, dan Kabupaten Klaten 6.886 tenaga kerja.
Sakina menegaskan, baik sektor padat karya maupun padat modal tetap memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Bagi kami, baik padat karya maupun padat modal semuanya penting. Harapannya tetap seimbang,” tegasnya.
Kawasan Industri Jadi Magnet Investor, Kabupaten Batang Geser Kendal
Selain pergeseran sektor, ԁinamika investasi juga terlihat dari lokasi yang menjadi tujuan utama investor. Kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK) masih menjadi magnet utama.
Pada triwulan I 2026, Kabupaten Batang mencatatkan realisasi investasi tertinggi, menggeser posisi Kabupaten Kendal yang sebelumnya dominan.
“Batang sekarang tertinggi karena memiliki dua kawasan industri, yaitu Batang Industrial Park dan KEK Batang,” ujar Sakina.





