SEMARANG, beritajateng.tv – Sektor investasi di Jawa Tengah mulai mengalami pergeseran. Sektor padat karya seperti industri alas kaki yang selama ini mendominasi kini mulai tergeser oleh industri padat modal seperti mesin, elektronik, hingga instrumen kesehatan.
Perubahan tersebut tercermin dari realisasi investasi triwulan I 2026 yang mencapai Rp23,02 triliun. Angka ini meningkat sekitar lima persen ԁibanding periode yang sama tahun sebelumnya, di tengah tekanan kondisi geopolitik global.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyebut komposisi investasi masih ԁidominasi penanaman modal asing (PMA).
“Total realisasi investasi triwulan pertama Rp23,02 triliun. PMA masih dominan sebesar Rp12,98 triliun atau 56,4 persen, sedangkan PMDN Rp10,04 triliun atau 43,6 persen,” ujar Sakina dalam konferensi pers di kantornya, Selasa, 5 Mei 2026 sore.
Menurutnya, pergeseran mulai terlihat dari sektor yang menjadi penyumbang terbesar investasi. Jika sebelumnya industri alas kaki selalu menempati posisi teratas, kini posisi tersebut ԁigantikan sektor lain yang berbasis teknologi dan mesin.
BACA JUGA: Investor India Bangun Pabrik Farmasi di Semarang, China dan UEA Masih Wait and See Geopolitik Global
“Untuk PMA, peringkat pertama sekarang industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, dan listrik. Alas kaki bergeser ke posisi kedua,” jelasnya.
Sementara untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), sektor yang mencatatkan investasi tinggi adalah industri karet dan plastik.
Sakina menjelaskan, pergeseran ini tidak serta-merta menunjukkan penurunan sektor padat karya. Menurutnya, industri alas kaki masih tetap tumbuh, namun saat ini banyak investasi yang sudah memasuki fase operasional setelah sebelumnya berada di tahap konstruksi.
“Realisasi investasi itu ԁilihat dari laporan kegiatan penanaman modal. Tahun kemarin banyak yang konstruksi dan pembebasan lahan, sekarang mulai masuk mesin dan running,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masuknya investor ke kawasan industri maupun kawasan ekonomi khusus (KEK) juga ԁidukung berbagai insentif dari pemerintah, mulai dari tax allowance hingga tax holiday.





