“Kalau ada steril gratis tiap tahun, itu sangat membantu. Itu bisa menekan populasi kucing yang ada di Kota Semarang,” ucap dia.
Dina berharap pemerintah Kota Semarang dapat memperluas dukungan terhadap program sterilisasi dan vaksinasi kucing.
Menurutnya, upaya tersebut bukan hanya membantu komunitas maupun rescuer. Akan tetapi juga dapat menciptakan kondisi yang lebih baik agar manusia dan hewan dapat hidup berdampingan.
Kembangkan Kerajinan Bantal Bergambar Anabul
Selama hampir 10 tahun menjalankan kegiatan rescue, Dina mengaku belum memiliki donatur tetap. Kebutuhan pakan dan kesehatan puluhan kucing selama ini, sebisa mungkin dia penuhi menggunakan kemampuan finansial sendiri.
“Kalau untuk rescue pribadi itu kendalanya di situ, makanan dan juga kesehatan,” katanya.
Dina memiliki usaha di bidang kerajinan tangan. Dia merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekaligus Ketua Klaster Handicraft Kota Semarang.
BACA JUGA: Hari Rabies Sedunia, Vaksinasi dan Sterilisasi Kucing Gratis di Ungaran Diserbu Warga
Salah satu produk yang kini dia kembangkan yakni bantal bergambar anak bulu (anabul. Ada kucing dan anjing sebagai gambar desain utama karakter.
Produk tersebut dia harapkan bisa menjadi sumber pemasukan tambahan untuk menopang kebutuhan hewan-hewan yang dirawatnya.
Komunitas Pecinta Kucing Semarang
Dina juga bergabung dengan komunitas Pecinta Kucing Semarang (Pekunsemar). Bersama komunitas, dia mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesejahteraan kucing, termasuk kegiatan sterilisasi dan vaksinasi rabies.
Akan tetapi, menurut Dina, aktivitas komunitas tersebut belum menghilangkan kebutuhan akan dukungan yang lebih luas.
Baginya, persoalan kucing terlantar di Semarang tidak akan selesai hanya dengan mengambil kucing dari jalan dan menempatkannya di rumah.
Selama masih ada kucing yang tidak dalam proses steril, maka akan terus berkembang biak, Kemudian anak-anaknya dibuang, siklus rescue akan terus berulang.





