Feature

Sentuhan Winika Desiana, Selamatkan Kucing Terlantar hingga Garap Kerajinan Bantal Anabul

×

Sentuhan Winika Desiana, Selamatkan Kucing Terlantar hingga Garap Kerajinan Bantal Anabul

Sebarkan artikel ini
Winika Desiana atau Dina, penyelamat kucing di Kota Semarang
Winika Desiana atau Dina, perempuan yang sejak 2017 memilih merawat kucing-kucing liar dan terlantar di Kota Semarang, menunjukkan kerajinan bantal bermotif kucing. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Baru selesai menguburkan kucing yang mati, Winika Desiana atau Dina kerap kembali berhadapan dengan anak-anak kucing baru lahir yang dibuang di sekitar tempat tinggalnya.

Situasi tersebut menjadi bagian dari kesehariannya. Perempuan yang sejak 2017 memilih merawat kucing-kucing liar dan terlantar di Kota Semarang itu.

Hampir satu dekade berjalan, jumlah kucing yang pernah dia selamatkan telah mencapai ratusan ekor. Bagi Dina, kegiatan penyelamatan kucing atau rescue seolah tidak pernah memiliki titik akhir karena kucing baru terus bermunculan.

“Datang ini mati, datang lagi. Baru saja ngubur, sudah datang lagi,” kata kepada beritajateng.tv, di Kota Semarang, Rabu, 30 September 2026.

Saat ini sekitar 30 ekor kucing berada dalam perawatan Dina. Jumlah tersebut terus berubah karena sebagian kucing mati akibat penyakit. Sementara kucing lain datang setelah dia temukan terlantar.

Bermula dari Induk dan Lima Anak Kucing

Kegiatan rescue Dina bermula ketika ia masih tinggal di kawasan Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada 2017.

Suatu hari, dia menemukan seekor induk kucing bersama lima anaknya yang dibuang di depan rumahnya. Kondisi tersebut membuatnya tidak tega sehingga seluruh kucing tersebut kemudian dia selamatkan.

“Saya kasihan terus saya ambil, saya rescue,” ucapnya.

Setelah kejadian itu, Dina mulai menyadari, pembuangan kucing di sekitar tempat tinggalnya bukan peristiwa sekali saja.

BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

Dia menemukan semakin banyak kucing. Terutama anak kucing yang masih kecil dan seharusnya masih membutuhkan induknya.

Sebagian dia temukan ketika baru berusia sekitar satu hingga dua bulan. Pada usia tersebut, anak kucing dia nilai masih rentan karena belum sepenuhnya mampu bertahan hidup tanpa induk.

Dina akhirnya terus mengambil kucing-kucing yang membutuhkan pertolongan. Dari satu rescue ke rescue berikutnya, jumlah kucing yang pernah dirawatnya pun terus bertambah.

Penyakit Panleuko Jadi Ancaman

Merawat puluhan kucing sekaligus membuat Dina tidak hanya berhadapan dengan persoalan makanan dan tempat tinggal.

Kesehatan menjadi salah satu tantangan terbesar. Salah satu penyakit yang paling dia khawatirkann yakni panleukopenia atau panleuko. Ppenyakit yang dapat menyerang kucing dan berakibat fatal.

Dina mengaku pernah mengalami kondisi ketika penyakit tersebut menyerang kucing-kucing rescue secara beruntun.

Ketika wabah muncul, sejumlah kucing yang dirawatnya tidak berhasil diselamatkan. Setelah jumlah kucing berkurang, kucing-kucing terlantar baru kembali berdatangan.

BACA JUGA:  Bersua dengan Star Denver si Anjing Alaskan Malamute Giant, Selebdog asal Kota Semarang

Dalam setahun, Dina memperkirakan bisa menangani sekitar 40 ekor kucing dalam kondisi yang terus berubah.

“Setahun saya bisa antara 40 ekoran. Kalau sudah ada virus, bisa sampai habis 20. Nanti datang lagi, nambah lagi,” katanya.

Keterbatasan biaya menjadi salah satu alasan Dina belum mampu memberikan vaksinasi kepada seluruh kucing yang dia rawat.

Padahal menurutnya, vaksinasi penting untuk membantu meningkatkan perlindungan tubuh kucing terhadap penyakit.

“Vaksin itu penting banget. Daya tahan tubuh kucing ketika sudah dewasa kalau sudah divaksin bisa tahan dari badai panleuko,” bilang Dina.

Rescue Tak Cukup, Populasi Perlu Dikendalikan

Bertahun-tahun menangani kucing terlantar, membuat Dina melihat persoalan tersebut bukan hanya dari sisi penyelamatan.

Menurutnya, semakin banyaknya anak kucing yang dibuang juga berkaitan dengan tingginya populasi kucing yang tidak terkendali.

Dia menilai sterilisasi menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kucing terus berkembang biak tanpa pengawasan.

BACA JUGA: Cerita Pemilik Anabul, Kucing Gemas dengan Ikatan Emosional Seperti Anak Sendiri

Tidak hanya kucing jalanan, Dina menyebut kucing peliharaan juga perlu mendapatkan perhatian terkait sterilisasi. Sebab, pemilik yang tidak mampu menanggung biaya sterilisasi dapat menghadapi situasi ketika kucingnya terus melahirkan.

Anak-anak kucing yang kemudian tidak mampu dia rawat berisiko berakhir di jalanan dan menjadi bagian dari persoalan rescue.

“Kalau ada steril gratis tiap tahun, itu sangat membantu. Itu bisa menekan populasi kucing yang ada di Kota Semarang,” ucap dia.

Dina berharap pemerintah Kota Semarang dapat memperluas dukungan terhadap program sterilisasi dan vaksinasi kucing.

Menurutnya, upaya tersebut bukan hanya membantu komunitas maupun rescuer. Akan tetapi juga dapat menciptakan kondisi yang lebih baik agar manusia dan hewan dapat hidup berdampingan.

Kembangkan Kerajinan Bantal Bergambar Anabul

Selama hampir 10 tahun menjalankan kegiatan rescue, Dina mengaku belum memiliki donatur tetap. Kebutuhan pakan dan kesehatan puluhan kucing selama ini, sebisa mungkin dia penuhi menggunakan kemampuan finansial sendiri.

“Kalau untuk rescue pribadi itu kendalanya di situ, makanan dan juga kesehatan,” katanya.

Dina memiliki usaha di bidang kerajinan tangan. Dia merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sekaligus Ketua Klaster Handicraft Kota Semarang.

BACA JUGA: Hari Rabies Sedunia, Vaksinasi dan Sterilisasi Kucing Gratis di Ungaran Diserbu Warga

Salah satu produk yang kini dia kembangkan yakni bantal bergambar anak bulu (anabul. Ada kucing dan anjing sebagai gambar desain utama karakter.

Produk tersebut dia harapkan bisa menjadi sumber pemasukan tambahan untuk menopang kebutuhan hewan-hewan yang dirawatnya.

Komunitas Pecinta Kucing Semarang

Dina juga bergabung dengan komunitas Pecinta Kucing Semarang (Pekunsemar). Bersama komunitas, dia mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesejahteraan kucing, termasuk kegiatan sterilisasi dan vaksinasi rabies.

Akan tetapi, menurut Dina, aktivitas komunitas tersebut belum menghilangkan kebutuhan akan dukungan yang lebih luas.

Baginya, persoalan kucing terlantar di Semarang tidak akan selesai hanya dengan mengambil kucing dari jalan dan menempatkannya di rumah.

Selama masih ada kucing yang tidak dalam proses steril, maka akan terus berkembang biak, Kemudian anak-anaknya dibuang, siklus rescue akan terus berulang.

BACA JUGA: Bantah Isu Buang Kucing di Lawang Sewu, KAI Wisata Siapkan Kolaborasi dengan Cat Lovers

Hampir 10 tahun setelah pertama kali menyelamatkan induk bersama lima anak kucing di depan rumahnya, kini Dina masih menjalani rutinitas yang sama.

Ada kucing yang datang, ada yang berhasil diselamatkan, ada pula yang pergi karena penyakit. Di antara siklus tersebut, Dina tetap membuka pintu bagi kucing-kucing lain yang membutuhkan pertolongan. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp