SEMARANG, beritajateng.tv – Curah hujan ekstrem yang terjadi sejak awal tahun 2025 berdampak besar pada tingginya jumlah bencana di wilayah Jateng.
Hingga pertengahan Oktober 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat sebanyak 241 kejadian bencana, mayoritas berupa banjir dan cuaca ekstrem.
Berdasarkan data yang beritajateng.tv terima pada Minggu, 19 Oktober 2025, BPBD Jawa Tengah mencatat bencana banjir menjadi peristiwa paling sering terjadi, dengan jumlah 99 kejadian.
Kemudian disusul cuaca ekstrem berupa angin kencang atau puting beliung sebanyak 72 kejadian, tanah longsor 42 kejadian, kebakaran 15 kejadian, dan kekeringan 13 kejadian.
Dari keseluruhan peristiwa itu, tercatat 10 orang meninggal dunia, 3 orang luka-luka, dan 8.694 jiwa terdampak. Sebanyak 11 rumah rusak berat, 63 rumah rusak sedang, dan 185 rumah rusak ringan. Total kerugian yang BPBD Jawa Tengah taksir mencapai Rp63,25 miliar.
“Kalau kami cut off sampai 13 Oktober, jumlah kejadiannya 241 bencana. Dan itu hampir 80 persen didominasi hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, via panggilan WhatsApp, Minggu, 19 Oktober 2025.
BACA JUGA: 31 Ribu Keluarga di Jateng Terima Bantuan Air Bersih, BPBD Ungkap Tiga Daerah Kekeringan Terparah
Ia menjelaskan, akumulasi data itu tak lepas dari kondisi musim hujan yang mulai meningkat sejak akhir 2024 hingga April 2025. Memasuki pertengahan tahun, sejumlah wilayah Jawa Tengah juga mulai mengalami kekeringan, meski jumlahnya lebih sedikit daripada bencana hidrometeorologi basah.
“Dari sekian kejadian memang yang paling banyak itu banjir, 99 kali. Kemudian berlanjut cuaca ekstrem sebanyak 72 kejadian, tanah longsor 42, kebakaran 15, dan kekeringan 13 kali,” jelasnya.
Chomsul menyebut, estimasi kerugian puluhan miliar rupiah itu berasal dari kerusakan infrastruktur publik, seperti jembatan dan rumah warga. BPBD mencatat nilai kerugian secara umum, sementara perincian kerusakan mendalam biasanya oleh tim rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Dari sekian kejadian itu, estimasi nilai kerugian mencapai Rp63 miliar. Itu akumulasi dari semua dampak kejadian,” tuturnya.
Nilai itu, kata Chomsul, mencakup berbagai jenis kerusakan seperti jembatan runtuh, rumah rusak, hingga fasilitas umum yang terdampak. BPBD menilai angka riil kemungkinan lebih tinggi karena pendataan rinci masih berjalan di sejumlah daerah.
Jelang puncak musim hujan, BPBD Jateng minta warga kenali potensi ancaman bencana
Menghadapi potensi peningkatan curah hujan pada November dan Desember 2025, BPBD Jawa Tengah memperkuat langkah mitigasi kepada masyarakat. Chomsul menegaskan, pengurangan risiko bencana bukan hanya saat musim hujan tiba, melainkan menjadi agenda rutin sepanjang tahun.
“Upaya mitigasi itu memang kami tanamkan dan kuatkan ke masyarakat di daerah rawan. Bukan hanya saat menjelang musim banjir atau longsor,” jelasnya.
Menurutnya, BPBD Provinsi Jawa Tengah dan kabupaten/kota terus menggelar pelatihan bagi masyarakat untuk mengenali ancaman di sekitar wilayah mereka. Langkah ini juga mencakup pembentukan tim relawan dan tim siaga bencana lokal.
“Masyarakat dilatih mengenali potensi ancaman, membentuk tim siaga, dan memahami apa yang harus dilakukan saat tanda-tanda bahaya muncul,” tambahnya.
BACA JUGA: Mulai Sering Turun Hujan, BPBD Kabupaten Semarang Konsolidasikan Seluruh Desa Tanggap Bencana
Tak hanya itu, Chomsul juga mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan informasi peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi peringatan dini terdapat pembaruan setiap dua jam dan tersiar melalui berbagai kanal komunikasi BPBD, termasuk grup komunitas.
BPBD meminta masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang untuk memperkuat kesiapsiagaan keluarga dan lingkungan masing-masing.
Langkah sederhana seperti menyimpan dokumen penting, mempersiapkan jalur evakuasi, dan memperhatikan kondisi saluran air Chomsul nilai penting untuk mencegah dampak fatal.
“Jangan anggap sebagai informasi biasa. Kalau peringatan dini hujan lebih dari satu jam keluar, itu artinya masyarakat harus siap,” pungkas dia. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





