SEMARANG, beritajateng.tv – Meski sudah mulai memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih melakukan dropping air di beberapa wilayah Jateng imbas kekeringan saat musim kemarau.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Jateng, Muhammad Chomsul, menyebut peralihan musim tidak terjadi serempak di semua wilayah. Bahkan, kata Chomsul, saat ini masih ada beberapa wilayah yang menerima dropping air.
“Ada beberapa wilayah yang masih dropping air ya, karena memang sebaran kejadian itu tidak serempak. Jadi kalau musim penghujan biasa dimulai dari bagian selatan tengah Jawa Tengah, nanti ke arah ke timur, kemudian biasanya yang paling terakhir itu Rembang, begitu pun juga musim kemarau,” ujar Chomsul saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp, Minggu, 19 Oktober 2025.
Sepanjang tahun 2025, BPBD Jateng mencatat ada lebih dari 31 ribu kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan dan menerima bantuan dropping air bersih.
BACA JUGA: Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga, Pemprov Jateng Terus Memperluas Program Desalinasi
“Akumulasi data kami ada 31 ribu lebih KK yang terdampak, yang di-support air bersih sebanyak 875 tangki, ini untuk yang dropping air. Nah, sebarannya itu berada di 20 kabupaten/kota di Jawa Tengah,” ujarnya.
Chomsul menuturkan, dampak kemarau tahun ini tidak terlalu berat. Alasannya, kata dia, kemarau tahun ini tergolong kemarau basah. Namun, Chomsul menyebut kegiatan dropping tetap dilakukan di sejumlah daerah meski intensitasnya tidak terlalu tinggi.
“Jadi dampak kemarau memang tidak begitu signifikan sebenarnya karena kita kan kemarau basah, tetapi ada 20 kabupaten/kota yang memang melakukan dropping air. Meskipun tidak intens, jadi seminggu sekali, dua minggu sekali, tapi memang ada kegiatan dropping air seperti itu,” lanjutnya.





