Gaya Hidup

Sering Dengar Kata Salty, Red Flag, FOMO? Ini Kata Pakar Unnes Soal Hobi Gen Z Suka Bikin Istilah Baru

×

Sering Dengar Kata Salty, Red Flag, FOMO? Ini Kata Pakar Unnes Soal Hobi Gen Z Suka Bikin Istilah Baru

Sebarkan artikel ini
ilustrasi WFH Istilah Gen Z
Ilustrasi anak muda.(Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kita sering kali menemukan istilah-istilah baru di media sosial. Misalnya seperti spill the tea, salty, red flags, beige flags, ghosting, YOLO, FOMO, dan sebagainya.

Biasanya, istilah-istilah baru itu diciptakan dan dipopulerkan oleh para Generasi Z atau Gen Z. Pertanyaannya, kenapa para Gen Z hobi sekali membuat istilah baru dalam komunikasi sehari-hari?

Peneliti Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Dhoni Zustiyantoro, menilai fenomena banyaknya istilah baru di kalangan Gen Z adalah dampak dari perkembangan teknologi.

Seperti diketahui, Gen Z tumbuh di tengah teknologi digital, salah satunya media sosial. Adanya media sosial itu, kata Dhoni, membuat Gen Z rentan terpapar berbagai budaya dan gaya komunikasi yang beragam.

BACA JUGA: Minim Uang Tunai, Gen Z di Semarang Semakin Cashless

“Gen Z tumbuh bersama media sosial, yang mana memfasilitasi komunikasi yang demikian cepat juga. Di situlah muncul istilah-istilah baru dan menjadi bagian dari refleksi Gen Z bahwa mereka memang penuh dengan kreativitas,” kata Dhoni kepada beritajateng.tv, Senin, 4 November 2024.

Menurut Dhoni, kecepatan Gen Z dalam membuat, memperbarui, hingga menyebarkan bahasa memperlihatkan kecenderungan mereka yang bukan hanya sebagai konsumen saja. Akan tetapi, juga sebagai produsen atau kreator.

Artinya, Gen Z memiliki kreativitas dan keinginan untuk memperbarui dan mengkreasikan kebahasaan.

“Saya termasuk orang yang optimis atau tidak menyalahkan fenomena kebahasaan karena memang bahasa berkembang dengan unsur kesepakatan dan kreativitas bersama,” sambungnya.

Istilah baru sebagai bentuk ekspresi dan identitas Gen Z

Lebih jauh, Dhoni menilai jika terlalu banyak istilah baru juga dapat bersampak negatif. Misalnya, terjadi miss-communication dengan generasi lainnya karena kata yang sangat spesifik atau istilah tertentu yang hanya dipahami Gen Z.

“Bisa jadi akan muncul kesenjangan komunikasi antargenerasi, karena yang paham hanya generasi Z, misalnya. Bisa saja generasi atasnya sudah agak miss, begitu pula dengan generasi berikutnya,” kata Dhoni.

Kendati demikian, Dhoni memandang kultur bahasa termasuk istilah baru menjadi unsur penting bagi para Gen Z. Salah satunya agar mereka bisa mengekspresikan diri.

BACA JUGA: Demi Konten dan Ajang Healing, Benarkah Gen Z FOMO Mendaki Gunung?

Kadangkala, kata-kata atau istilah lama tidak cukup bagi para Gen Z untuk mengekspresikan diri mereka. Sehinga, secara tidak langsung mereka akan menciptakan bahasa mereka sendiri.

“Gen Z dapat menciptakan kata yang lebih kurang mewakili perasaan atau pengalaman yang unik dan spesifik, yang secara kebahasaan tidak terwadahi sebelumnya,” beber Dhoni.

Kemudian, ia juga menilai bahwa ragamnya istilah ini bisa menjadi identitas bagi Gen Z. Mengingat, bahasa memang tercipta oleh komunitas atau generasi tertentu dan sering kali memperkuat hubungan sosial di antara penuturnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp