SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang murid kelas IV (Ahmad Dahlan) SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran, Kabupaten Semarang dugaanya menjadi korban perundungan oleh teman satu kelas, di lingkungan sekolah.
Akibat tindakan tersebut, korban harus menjalani perawatan medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD), di rumah sakit, di Kota Semarang. Korban kabarnya juga mengalami trauma.
Ihwal dugaan perundungan ini terungkap oleh pengakuan orang tua korban, Arief Prasetyo (48) kepada awak media, di Langensari, Kecamatan Ungaran Barat, Senin 28 Desember 2026.
Kronologi Peristiwa Perundungan
Menurutnya, perundungan yang menyasar putranya tersebut tidak hanya sekali. Perlakuan tersebut kabarnya sudah terjadi beberapa kali kepada putranya di lingkungan sekolah.
“Puncaknya terjadi pada hari Rabu 23 September 2026 lalu. Putra saya mengalami lebam, luka di belakang telinga, bibir pecah dan sempat mengalami mimisan,” katanya.
Setelah mengalami peristiwa tersebut, kata dia, si buah hati sempat mengalami demam tinggi pada malam harinya. Iniberlanjut hingga keesokan harinya, Kamis 24 September 2026.
BACA JUGA: Dugaan Perundungan Siswa SMPN 1 Blora Dilaporkan ke Polisi, Korban Luka di Bibir
Dia bilang, demamnya semakin tinggi, sampai 41,8 °C dan mengalami mimisan. Dia dan istrinya berinisiatif memeriksakan ke RS Hermina Banyumanik, pada Jumat 25 September 2026.
Selanjutnya pada hari Sabtu, Arief mendatangi sekolah bertemu Kepala Sekolah SD Hj. Isriati Moenadi Ungaran dan beberapa guru untuk mengonfirmasi apa yang terjadi pada putranya.
“Dalam pertemuan tersebut, pihak sekokah sempat menyampaikan permintaan maaf. Pihak sekolah juga mengakui keteledoran atas apa yang anak saya alami,” ucap dia.
Dampak Perundungan
Dampak perundungan itu, kata Arief, sampai hari ini putranya masih trauma, menjadi lebih pendiam, sering mengigau pada saat tidur. Selain itu sering minta pelukan seperti meminta perlindungan.
Sebagai orang tua, Arief menyayangkan tindakan tersebut terjadi di lingkungan sekolah. Sehingga dia meminta kepada pihak sekolah agar melakukan evaluasi.
BACA JUGA: Pakar Lingkungan SCU: Energi Matahari Minim Dampak Ketimbang Geothermal, Tapi Izin Panel Surya Sulit
Terlebih, lanjutnya, kejadian perundungan diduga sudah berulang kali terjadi di sekolah tersebut. Bahkan, kabarnya ada orangtua yang terpaksa harus memindahkan anaknya ke sekolah lain.
“Kalau saya tidak akan memindahkan anak saya ke sekolah lain. Permintaan saya ada upaya dan langkah perbaikan dalam pengawasan kegiatan di sekolah,” katanya.
Pihak Sekolah Ambil Tindakan
Sementara itu, terkait dugaan perundungan seperti yang Arief Prasetyo katakan, pihak SD Hj Isriati Moenadi mengaku tidak tinggal diam dan telah mengambil tindakan.
Kepala SD Hj Isriati Moenadi Ungaran, Yosita Kumalasari mengatakan, sebagai pimpinan sekolah telah berkomunikasi dengan orangtua korban.
BACA JUGA: Rencana Pemerintah Ngebor 19 Titik Geothermal di Jawa Tengah Terungkap
Sekolah, melalui guru yang bersangkutan juga telah mengumpulkan sejumlah murid yang mengetahui peristiwa perundungan itu.
Tujuannya, kata Yosita, untuk mencari tahu terkait kronologi kejadian yang menimpa oleh salah satu murid kelas IV Ahmad Dahlan.
Murid Pelaku Perundungan Dapat Pembinaan
Yosita mengatakan, untuk murid yang dugaannya terlibat juga telah mendapatkan konsekuensi atas tindakan dia. Konsekuensinya bukan berupa sanksi fisik, akan tetapi lebih pada pembinaan.
Mereka harus menjalani kegiatan pembinaan keagamaan, di lingkungan SD Hj Isriati Moenadi Ungaran. Di sini sebutannya sebagai program Bengkel Akhlak.
“Jadi anak- anak yang terindikasi terlibat, pada hari Jumat tidak diperkenankan mengikuti kegiatan pembelajaran. Akan tetapi diminta ke ruangan untuk membaca Al Qur’an dari awal berangkat sampai pulang,” kata dia.
BACA JUGA: Harapan Warga Ngampin Ambarawa, Kala Makam Tergusur Tol Jogja – Bawen
Yosita juga mengakui, salah satu murid yang dugaannya terlibat merupakan anak dari pengurus yayasan. Sehingga mendapatkan konsekuensi yang lebih berat dibanding lainnya.
“Karena memang dari keluarga kami sendiri (yayasan), maka konsekuensi yang harus diterima memang paling berat. Satu hari kegiatannya hanya mengaji Alquran,” kata Yosita Kumalasari. (*)
Editor: Diaz A Abidin





