SEMARANG, beritajateng.tv – Pakar Ilmu Lingkungan Soegijapranata Catholic University (SCU), Hotmauli Sidabalok atau Uli, menyoroti rencana pengembangan eksplorasi panas bumi atau proyek geothermal di sejumlah gunung di Jawa Tengah.
Dia mengatakan, proyek geothermal idealnya berada jauh dari permukiman penduduk. Baginya, kondisi Pulau Jawa dengan penduduk begitu padat perlu menjadi pertimbangan, tak terkecuali Jawa Tengah.
Hal itu Uli katakan usai menghadiri kegiatan bertajuk “Belajar Geothermal dan Mengapa Warga Khawatir” yang berlangsung di Collabox Creative Hub, Rabu, 23 September 2026 malam.
Uli mengatakan, rekam jejak pengembangan proyek geothermal di sejumlah daerah di Indonesia perlu menjadi pembelajaran. Dia bilang, proyek geothermal dapat memberikan dampak terhadap lingkungan apabila proses pengembangannya tidak disiplin dan sesuai prosedur.
“Sebetulnya di Indonesia sudah banyak proyek geothermal yang menimbulkan banyak masalah. Nah, tapi saya enggak tahu kenapa pemerintah masih memilih persoalan itu. Apalagi di Pulau Jawa yang padat penduduknya,” ucapnya.
Dampak Lingkungan Proyek Geothermal
Uli mengatakan, sejak proses pengambilan panas bumi, ada sejumlah aspek lingkungan yang wajib jadi perhatian. Salah satunya berkaitan dengan perubahan kondisi air dan lapisan bawah tanah.
“Karena dia akan berdampak, dari prosesnya saja, dia akan menimbulkan, satu, akan ada pengurangan dari layer bumi, air misalnya. Nah, itu akan menyebabkan land subsidence, penurunan tanah,” ujar Uli.
BACA JUGA: Lari 150 KM Gunung Lawu – Kantor Gubernur Jateng, Forum Rakyat Tolak Proyek Geothermal
Kondisi tersebut, kata dia, juga bisa terkait dengan potensi getaran atau kegempaan. Ini dapat muncul akibat perubahan kondisi bawah tanah.
“Dan itu kalau misalnya terjadi penurunan tanah berarti kan ada getaran, ada gempa istilahnya, seperti itu. Nah, itu sendiri harus mereka pikirkan,” ucapnya.
Potensi Gas Dampak Lingkungan Geothermal Seperti Bau Telur Busuk
Sebagai contoh, kata Uli, aroma menyengat yang timbul di kawasan geothermal Dataran Tinggi Dieng. Muncul aroma seperti telur busuk berkaitan dengan keberadaan hidrogen sulfida atau H₂S.
“Bau busuk itu sebetulnya H2S sulfur, kemudian SO2. Jadi itu kalau tersedot ke paru-paru, ke jantung, itu dampaknya kesehatan,” ucap dia.
BACA JUGA: Podcast Gunung Ungaran Bakal Dibor! Semarang Bisa Krisis Air?
Uli juga mengatakan, sejumlah dampak lingkungan lain yang menurutnya perlu jadi perhatian. Mulai dari tanaman, tanah hingga air.
“Yang saya baca dalam artikel, dia [geothermal] juga akan merusak tanaman, tanah dan air. Makanya tadi teman-teman bilang air mereka juga sebenarnya tercemar. Itu yang terjadi,” katanya.
Geothermal Berdampak pada Sumber Air?
Soal kebutuhan air dalam proses pengembangan geothermal juga menjadi catatan yang tak kalah penting. Uli bilang, adanya pemakaian air yang besar untuk proyek geothermal.
Dia mengatakan, sebagian pemakaian air dalam proses geothermal dapat kembali ke bawah tanah. Bersamaan dengan itu, proses tersebut tetap dapat menimbulkan kebutuhan air tambahan. Hal ini akibat penguapan maupun kebutuhan pendinginan.
“Air ini biasanya di banyak geothermal itu ada proses pengembalian lagi untuk memenuhi level air yang harus masuk kembali ke dalam tanah. Namun ketika pada proses iatu ada penguapan. Maka di sini, proyek butuh lagi air tambahan atau bahkan butuh air untuk pendinginan di waktu-waktu tertentu,” ucapnya.
BACA JUGA: Soroti Proyek Geotermal Gunung Ungaran, Komunitas Budaya Khawatir Candi Gedongsongo Rusak
Kebutuhan akan air, kata Uli, perlu menjadi perhatian. Apalagi kalau pengambilannya dari sumber air di sekitar lokasi yang tentu keberadaanya terbatas.
“Kalau tidak ada sumber air, katakanlah bisa ambil air kotor. Kalau tidak ada kebutuhan air kotor di situ ya terpaksa ambil air bersih. Maka itu dari mana ambilnya? Dari sumber air-air terdekat atau bahkan dari dalam perut bumi,” katanya.
Jarak Ideal Proyek Geothermal dengan Permukiman Warga
Lebih lanjut Uli mengatakan, tentang jarak ideal proyek geothermal dengan permukiman warga agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat setempat, Uli memberikan gambaran berdasarkan pengalamannya mempelajari sejumlah proyek geothermal di luar negeri.
Dia mencontohkan The Geysers di California, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu kompleks geothermal terbesar di dunia. Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), The Geysers memiliki sekitar 18 pembangkit geothermal yang tersebar di area sekitar 78 kilometer persegi.
BACA JUGA: Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo
Uli kemudian menggunakan luasan tersebut sebagai gambaran untuk menjelaskan kondisi yang menurutnya ideal bagi pengembangan geothermal di Indonesia. Di Jawa Tengah khususnya, gambaran jaraknya seperti Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali.
“Belajar banyak pengalaman di luar negeri seperti di Amerika Serikat, tepatnya di California, The Geysers 78 kilometer persegi. Jadi bayangkan saja dari Semarang ke Boyolali kosong semua. Nah, itu baru bisa sangat ideal geothermal itu. Idealnya apa? Artinya tidak menyebabkan kerugian bagi masyarakat, penduduk sekitar,” katanya.
Uli Sebut Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia Lemah
Lebih lanjut, Uli menyoroti rencana pengeboran Gunung Ungaran yang kabarnya berada pada kedalaman sekitar 1.700 hingga 2.200 meter. Dia menilai pengembangan geothermal tidak hanya membutuhkan titik pengeboran, namun juga area lain untuk mendukung proses produksi listrik.
“Makanya saya tidak yakin itu pengeborannya sekitar 1.700 sampai 2.200 meter ke dalam tanah. Kalau itu pengeborannya sampai sedemikian rupa, untuk tempat mengumpulkan listriknya, dia kan butuh juga luasan wilayah lain. Tidak hanya titik bor itu,” ucap dia.
Kata Uli, persoalan yang perlu jadi perhatian tak cuma penggunaan teknologinya, namun juga kesiapan tata kelola dan pengawasan terhadap perusahaan terkait. Dia turut menyoroti penegakan hukum yang dia nilai masih menjadi persoalan dalam pengawasan lingkungan di Indonesia.
BACA JUGA: Soal PLTP Geotermal Gunung Ungaran, Legislator PKB Ingatkan Risiko Patahan di Sekitar Rawapening
“Saya bukan mau mengatakan saya setuju gitu ya, tapi melihat kita gitu ya. Disiplin kita kurang, kemudian tata kelolanya jelek, manajemennya apalagi, apa kita bisa masuk ke dalam untuk mengontrol perusahaan? Itu juga susah,” katanya.
“Terus law enforcement kita lemah. Pemerintah mungkin susah kan mengontrol perusahaan, sedangkan pengambilan air bawah tanah aja masih, gitu kan? Apalagi ini,” katanya.
Dukung Petisi Warga Tolak Geothermal Ungaran
Lebih jauh, perihal penolakan geothermal di Gunung Ungaran, Uli melihat keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan. Dia merespons adanya petisi penolakan geothermal Ungaran yang penandatanganannya sudah lebih dari 10 ribu orang.
Dia bilang, masyarakat perlu menyuarakan kekhawatiran dan memperkuat gerakan bersama. hal itu apabila masyarakat menilai proyek tersebut berpotensi berdampak terhadap lingkungan.
“Kalau menurut saya masyarakat harus bergerak. Kenapa? Karena kebijakan. Jadi ini kan pemerintah daerah menyerahkan itu kepada investor gitu ya. Kalau kita enggak ribut, siapa yang mewakili alam ini? Siapa yang mewakili generasi kita yang akan datang?” katanya.
BACA JUGA: Hari Kedua Aksi, Aliansi Jateng Guyub Soroti Kerusakan Lingkungan, Minta Gubernur Tertibkan Tambang Bermasalah
Baginya, gerakan masyarakat lewat petisi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.
“Saya sangat mendukung, itu bentuk gerakan sebetulnya. Indonesia itu punya kelompok masyarakat yang memang peduli, aware, punya kesadaran bahwa lingkungannya mengalami perusakan. Karena bumi kita ini adalah tempat hidup kita bersama. Harusnya kita rayakan bersama, kita rawat bersama,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





