SEMARANG, beritajateng.tv – Nutrisi yang tepat dan seimbang tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, tetapi juga merupakan fondasi utama dalam mendukung performa dan prestasi atlet.
Hal tersebut menjadi fokus utama Focus Group Discussion (FGD) Bidang Sport Science KONI Kota Semarang di Hotel Grand Arkenzo, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Acara ini mengangkat tema besar tentang Evaluasi Nutrisi dan Fisiologi Atlet untuk Meningkatkan Performa. Para ahli di bidang gizi olahraga dan ilmu keolahragaan memaparkan berbagai hal krusial yang seringkali terlewatkan dalam proses pelatihan atlet. Yaitu pentingnya pengelolaan asupan gizi harian secara ilmiah dan terukur.
Salah satu pemateri utama, dr Anis Setiowati, M.Gizi, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang (FIK UNNES).
Ia menekankan bahwa pemilihan makanan bagi atlet tidak bisa dengan cara yang secara sembarangan.
BACA JUGA: KONI Kota Semarang Tolak Permenpora Nomor 14 Tahun 2024, Bertentangan dengan Aturan Lebih Tinggi
Menurutnya, kebutuhan energi dan nutrisi seorang atlet sangat berpengaruh oleh jenis olahraga yang mereka jalani, intensitas latihan, serta kondisi fisiologis individu.
“Makanan bergizi memang penting, tapi harus kita sesuaikan dengan kebutuhan atlet. Salah memilih jenis makanan bisa berdampak negatif pada performa,” papar dia.
Sebaliknya, lanjut dr. Anis diet yang sesuai secara ilmiah justru bisa meningkatkan daya tahan dan kecepatan pemulihan tubuh.
Ia juga menjelaskan bagaimana tubuh bekerja selama aktivitas fisik, mengalami pengeluaran energi yang besar dan kehilangan cairan melalui keringat.
Oleh karena itu, pengaturan pola makan yang mempertimbangkan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral) sangatlah vital.
Pada sesi berikutnya oleh Prof Sri Sumartiningsih, S.Si., M.Kes., Ph.D., AIFO, yang juga merupakan dosen senior FIK UNNES.
Ia menyampaikan materi bertajuk “Dari Denyut Jantung hingga Laktat: Cara Sederhana Tingkatkan Performa Atlet” yang mengulas pentingnya pengukuran aspek fisiologis dalam dunia olahraga prestasi.
“Dengan mengetahui respon fisiologi tubuh. Seperti detak jantung, kadar laktat, dan VO2 max. Pelatih bisa lebih mudah menyesuaikan intensitas latihan. Ini adalah pendekatan ilmiah yang sangat membantu dalam proses peningkatan performa atlet secara individual,” jelasnya.
Menurut Sri Sumartiningsih, pengukuran fisiologi bukan hanya pekerjaan laboratorium. Saat ini, sudah banyak metode yang bisa diterapkan secara langsung di lapangan dengan alat sederhana namun akurat.
BACA JUGA: KONI Kota Semarang Gelar Tes Fisik Berkala 651 Atlet PSE untuk Porprov Jateng XVII 2026
Hal ini penting agar pelatih dapat secara langsung mengevaluasi hasil latihan tanpa harus menunggu hasil laboratorium.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, Nur Syamsi, selaku ketua panitia, turut menggarisbawahi bahwa gizi yang memadai menjadi fondasi dari segala bentuk latihan fisik. Tanpa asupan nutrisi yang sesuai, sekeras apapun program latihan yang dijalani, hasilnya tidak akan maksimal.
Namun demikian, ia juga mengakui adanya tantangan nyata di lapangan. Salah satunya adalah perbedaan kebutuhan nutrisi antara satu cabang olahraga dengan cabang lainnya.
Selain itu, beberapa atlet, terutama yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari secara ideal.
“Kebutuhan gizi antara atlet angkat besi tentu berbeda dengan atlet renang atau lari jarak jauh. Ini seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih dalam menyusun pola makan atlet,” tambahnya.
Ferry Sataryanto, S.H., selaku Wakil Ketua Umum V KONI Kota Semarang, menyatakan bahwa kegiatan FGD ini merupakan bentuk nyata komitmen KONI untuk mempertahankan posisi sebagai juara umum dalam ajang olahraga nasional.
Ia menekankan bahwa ilmu yang para narasumber bagikan harus benar-benar di pahami dan terimplementasi oleh para pelatih.
Dengan sinergi antara pola makan yang tepat, latihan terstruktur, dan pendekatan ilmiah melalui pengukuran fisiologi, prestasi atlet Kota Semarang di yakini akan terus berkembang.
“Paparan ilmu hari ini luar biasa. Kami berharap para pelatih bisa menerapkannya di lapangan. Bukan sekadar memahami secara teori,” tutup Ferry. (*)
Editor: Elly Amaliyah





