KARANGANYAR, beritajateng.tv – Ketua DPRD Jateng Sumanto mendorong pemerintah menyiapkan sumber air dan infrastruktur pemadaman secara menyeluruh di kawasan lereng Gunung Lawu. Desakan tersebut ia sampaikan untuk mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sering terulang di musim kemarau.
Sumanto menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Rapat Koordinasi membahas kebakaran Gunung Lawu bersama Pemkab Karanganyar di kawasan wisata Sakura Hills, Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Senin, 26 Oktober 2026.
Politisi PDI Perjuangan tersebut mengatakan, kebakaran Gunung Lawu tak cukup pemerintah atasi dengan memadamkan api saat sudah membesar. Lebih dari itu, perlu pembangunan infrastruktur seperti embung-embung kecil yang bisa menampung aliran dari sumber air yang ada.
“Contoh disitu ada aliran air, ya dicari, buatkan saluran. Ada embung-embung kecil untuk menampung air. Jadi kalau terjadi kebakaran, pemadaman akan lebih mudah,” ujarnya.
BACA JUGA: Lokasi Titik Terakhir Kebakaran Gunung Lawu, Ahmad Luthfi Minta Penyisiran Menyeluruh
Infrastruktur pemadaman tersebut, lanjutnya, perlu pemerintah siapkan pada titik-titik yang berulang kali terbakar sebelum musim kemarau berikutnya tiba. Ia menilai tanpa adanya antisipasi, petugas akan kembali menghadapi kesulitan yang sama ketika kebakaran melanda kawasan lereng Gunung Lawu.
“Saya berharap ada langkah untuk antisipasi. Kalau tahun ini terjadi kebakaran, besok harapannya tidak terjadi lagi. Walaupun saya paham potensi wilayahnya susah, medannya berat, tapi harus ada antisipasi,” ujarnya.

Sumanto menambahkan, kondisi medan yang sulit dijangkau membuat upaya pemadaman membutuhkan dukungan sarana yang memadai. Ia meminta titik-titik rawan kebakaran pemerintah petakan berdasarkan kejadian sebelumnya. Lokasi yang berkali-kali terbakar harus menjadi prioritas penanganan, bukan sekadar kembali ditangani ketika api muncul.
Sumanto menjelaskan, langkah antisipasi menjadi penting karena perubahan pola musim yang membuat periode kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan. Kondisi tersebut menuntut kesiapan lebih awal, bukan hanya mengandalkan pola penanganan yang selama ini pihak terkait lakukan.
“Sekarang musimnya kemarau kering yang lama. Tidak seperti dulu, bulan April-September biasanya kemarau, September-April musim penghujan. Perlu ada langkah-langkah terkait dengan potensi kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun,” tandasnya.
Kebakaran Gunung Lawu, antisipasi perlu koordinasi lintas instansi
Ia mendorong agar perencanaan pemerintah lakukan bersama pihak-pihak yang memiliki kewenangan atas kawasan hutan Gunung Lawu, termasuk pemerintah pusat dan Perum Perhutani. Dukungan anggaran dan pembagian peran penting agar rencana pencegahan tidak berhenti sebagai usulan.
BACA JUGA: Sumanto: Sinergi Lintas Instansi Kunci Penanganan Kebakaran Gunung Lawu
“Sebagian besar wilayahnya ini milik Perhutani. Kalau tidak ada perencanaan, setahun ke depan nanti terjadi kekeringan akan susah lagi. Karena api yang kecil itu akan menjadi teman, kalau besar menjadi melawan kita semuanya,” kata Sumanto.
Sumanto mengingatkan, penanganan kebakaran Gunung Lawu bukan hanya berkaitan dengan keselamatan kawasan hutan. Gunung tersebut juga mempunyai fungsi ekologis sebagai salah satu sumber air bagi kawasan bawah Kabupaten Karanganyar.
“Kerusakan ekosistem akibat kebakaran akan membawa dampak lebih luas terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi bagian penting dari pengelolaan kawasan Gunung Lawu,” ujarnya.
Ikut hadir dalam Rapat Koordinasi tersebut, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Bupati Karanganyar Rober Christanto, Wakil Bupati Adhe Eliana, Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti, Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo Kurniawan, serta Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Sugiharjo. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





