Jateng

Sumanto Gelar Wayang Kulit Songsong Tunggul Naga, Beri Ruang Pelestarian Budaya di Karanganyar

×

Sumanto Gelar Wayang Kulit Songsong Tunggul Naga, Beri Ruang Pelestarian Budaya di Karanganyar

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Jateng Sumanto
Ketua DPRD Jateng Sumanto konsisten menggelar pentas wayang kulit di kediamannya di Kabupaten Karanganyar. (Humas DPRD Jateng)

Ia menjelaskan Songsong Tunggul Naga mengisahkan tentang perebutan pusaka kahyangan yang melambangkan kekuasaan, kewajiban, dan sifat kepemimpinan untuk melindungi rakyat. Dalam cerita tersebut, para ksatria seperti Pandawa atau tokoh Punakawan harus menghadapi kekacauan di dunia akibat lenyapnya keseimbangan moral dan kepemimpinan yang benar.

“Namun melalui pertempuran dan laku spiritual, keseimbangan alam semesta akhirnya dipulihkan kembali dan pusaka kembali ke tangan pemimpin yang berhak,” katanya.

BACA JUGA: Sumanto Ajak Anak Muda Manfaatkan Ponsel jadi Sumber Penghasilan Lewat Konten Afiliator

Ki Darmadi menambahkan, lakon tersebut sekaligus menguraikan pesan moral yang dapat penonton petik dari cerita. Melalui perjalanan para tokoh dalam lakon, penonton dapat melihat gambaran mengenai kehidupan manusia, termasuk bagaimana seseorang harus bersikap, mengambil keputusan, memegang prinsip, serta mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi salah satu kekuatan wayang kulit. Cerita yang dalang sampaikan melalui tokoh pewayangan tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi dapat menjadi bahan renungan bagi penonton dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sumanto pernah nanggap wayang kulit 34 jam nonstop

Langkah Sumanto yang rutin menggelar pertunjukan wayang kulit mendapat apresiasi dari Ki Waluyo Noto Carito dari Paguyuban Dalang Karanganyar. Ia menyebut, hingga saat ini Sumanto sudah 34 kali nanggap wayang kulit dengan menggandeng para dalang di Kabupaten Karanganyar.

Menurut Ki Waluyo, konsistensi tersebut memberikan ruang bagi para dalang di Karanganyar untuk terus berkarya. Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga menjadi wadah berkumpulnya para pelaku seni pedalangan. Bahkan, saat Peringatan Hari Wayang Nasional dan Hari Wayang Dunia, Sumanto pernah menggelar pentas wayang kulit secara maraton selama 36 jam dan 28 jam nonstop.

“Dua tahun lalu Pak Manto menggelar pagelaran wayang 36 jam nonstop. Tahun lalu 28 jam dalam rangka Hari Wayang Nasional. Bahkan Pak Manto kami nobatkan menjadi Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar. Saya berharap ini jadi rumah seni kita, jadi kebun seninya Pak Manto dalam rangka nguri-uri budaya,” tandasnya.