Ki Waluyo mengatakan, dalam pentas tersebut para dalang se-Kabupaten Karanganyar berkumpul bersama. Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga ikut terlibat dalam pentas, salah satunya menjadi penabuh gamelan. Menurutnya, keterlibatan para dalang tersebut membuat kegiatan wayang kulit menjadi ruang bersama bagi para seniman untuk bersilaturahmi sekaligus mempertahankan tradisi pedalangan di Karanganyar.
Sementara itu, Sekdes Suruh, Aan Andrianto, mengajak masyarakat agar tidak hanya menjadikan pagelaran wayang kulit sebagai hiburan semata. Ia meminta masyarakat mengambil pesan moral dan petuah dari setiap cerita yang tersaji. Menurutnya, karakter para tokoh pewayangan dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai sikap dan perilaku dalam kehidupan.
Aan mencontohkan sejumlah tokoh yang dapat menjadi teladan, seperti Arjuna, Werkudara, dan Kresna. Sebaliknya, sifat buruk yang tergambar melalui tokoh seperti Sengkuni dapat menjadi pelajaran agar tidak penonton tiru.
“Wayang kulit ini tak hanya sekadar soal nguri-uri budaya, tapi juga bisa menambah wawasan dan pesan moral yang baik,” katanya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





