Jateng

Teknologi Bola GPS Belum Ampuh Atasi Banjir di Simpang Lima, Ini Strategi Baru DPU Kota Semarang

×

Teknologi Bola GPS Belum Ampuh Atasi Banjir di Simpang Lima, Ini Strategi Baru DPU Kota Semarang

Sebarkan artikel ini
Teknologi Bola GPS Belum Ampuh Atasi Banjir di Simpang Lima, Ini Strategi Baru DPU Kota Semarang
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti melakukan simulasi uji coba bola GPS di Kawasan Simpang Lima Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

Kepala Bidang Bina Marga DPU Kota Semarang, Victor Tri Karyanto Nugroho, menilai kondisi yang terjadi lebih tepat disebut genangan, bukan banjir. Ia mengatakan jarak aliran menuju rumah pompa di Kampung Kali membuat air membutuhkan waktu sebelum benar-benar surut.

“Air perlu waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke pompa. Setelah masuk ke Kampung Kali, genangan biasanya surut dalam waktu kurang dari satu jam,” jelas Victor.

Namun, ia mengakui ada titik yang alirannya tersendat, khususnya dari sisi kiri Jalan Pahlawan menuju eks Ramayana. Tim menemukan banyak utilitas kabel dan pipa yang melintang di dalam saluran. Kondisi itu mempersempit ruang aliran air dan menahan sampah.

“Bukan semata-mata sampah. Di tengah saluran ada kabel dan pipa, itu tidak bisa kami bongkar begitu saja. Jadi solusinya pendalaman saluran dan pembersihan berkala,” katanya.

Uji Coba Bola GPS Atasi Banjir di Kawasan Simpang Lima

Sebelumnya, Agustina Wilujeng memimpin langsung uji coba teknologi GPS drifter di kawasan Simpang Lima, Kota Semarang. Bola kecil yang di pasangi chip GPS dihanyutkan ke dalam drainase dan pergerakannya dipantau melalui gawai petugas.

Jika bola berhenti sebelum estimasi waktu 30 menit, titik tersebut diidentifikasi sebagai lokasi sumbatan.

“Kami gunakan bola yang terpasang chip GPS. Kalau dalam setengah jam tidak bergerak, berarti ada kendala. Tim langsung turun untuk memastikan apa yang menyumbat, bisa kasur, ban, sampah, atau sedimen,” ujar Agustina.

Ia menegaskan, setiap temuan langsung kami tindaklanjuti di lapangan. Selain sampah, tim menemukan penyempitan di Saluran Gendong yang tertutup cor beton tebal serta minimnya saluran pembuangan menuju sungai.

“Saya minta cor yang menutup saluran segera dibongkar. Kami juga izinkan penambahan saluran agar air dari hulu lebih cepat mengalir ke sungai,” tegasnya.

Agustina memastikan simulasi GPS drifter tidak berhenti di Simpang Lima. Pemerintah kota berencana memperluas metode ini ke kawasan Pandanaran dan Ahmad Dahlan. Sekaligus memperbarui peta drainase yang perencanaannya sempat terputus selama puluhan tahun.