SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang menyebut simulasi uji coba teknologi drifter atau bola pelacak ber-chip GPS untuk penanganan banjir di kawasan Simpang lima belum membuahkan hasil.
Hal ini karena banjir masih terjadi kawasan Simpang Lima, Kota Semarang, setiap kali hujan deras mengguyur. Di titik yang menjadi ikon ibu kota Jawa Tengah itu, banjir bahkan sempat meninggi terutama di Jalan Pahlawan.
Kondisi ini menjadi evaluasi tersendiri bagi DPU terhadap uji coba teknologi GPS drifter atau bola pelacak untuk mendeteksi sumbatan drainase.
Meski sebelumnya Pemerintah Kota Semarang melalui Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng telah melakukan simulasi penghanyutan bola ber-chip GPS ke dalam saluran air, hasilnya dinilai belum maksimal. Genangan masih terjadi saat intensitas hujan tinggi.
Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, mengakui pihaknya perlu melakukan langkah tambahan di lapangan. Ia menyebut teknologi hanya menjadi alat bantu, sementara pembenahan fisik saluran tetap menjadi kunci.
“Kami akan buat main hole tambahan karena yang sudah ada jaraknya sekitar 10 meter. Hari ini kami mulai membuka main hole yang existing, lalu kami tambah lagi agar aliran air lebih cepat masuk ke drainase,” kata Suwarto.
Menurutnya, penambahan lubang kontrol itu dimulai dari area bekas Gedung Ace Hardware menuju Jalan Ahmad Yani.
BACA JUGA: Simulasi Drainase Pakai Bola di Simpang Lima, DPU Semarang Telusuri Titik Sumbatan Air
Setelah itu, tim melanjutkan pengerukan sedimen sepanjang kurang lebih 300 meter hingga ke Jalan Ahmad Dahlan.
Ia menjelaskan, sedimen dan hambatan teknis di dalam saluran menjadi faktor utama lambatnya aliran air. “Target kami mengurangi bendungan air di Jalan Pahlawan. Dengan tambahan main hole dan pengerukan manual, air bisa lebih cepat mengalir ke pompa,” ujarnya.
Kepala Bidang Bina Marga DPU Kota Semarang, Victor Tri Karyanto Nugroho, menilai kondisi yang terjadi lebih tepat disebut genangan, bukan banjir. Ia mengatakan jarak aliran menuju rumah pompa di Kampung Kali membuat air membutuhkan waktu sebelum benar-benar surut.
“Air perlu waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke pompa. Setelah masuk ke Kampung Kali, genangan biasanya surut dalam waktu kurang dari satu jam,” jelas Victor.
Namun, ia mengakui ada titik yang alirannya tersendat, khususnya dari sisi kiri Jalan Pahlawan menuju eks Ramayana. Tim menemukan banyak utilitas kabel dan pipa yang melintang di dalam saluran. Kondisi itu mempersempit ruang aliran air dan menahan sampah.
“Bukan semata-mata sampah. Di tengah saluran ada kabel dan pipa, itu tidak bisa kami bongkar begitu saja. Jadi solusinya pendalaman saluran dan pembersihan berkala,” katanya.
Uji Coba Bola GPS Atasi Banjir di Kawasan Simpang Lima
Sebelumnya, Agustina Wilujeng memimpin langsung uji coba teknologi GPS drifter di kawasan Simpang Lima, Kota Semarang. Bola kecil yang di pasangi chip GPS dihanyutkan ke dalam drainase dan pergerakannya dipantau melalui gawai petugas.
Jika bola berhenti sebelum estimasi waktu 30 menit, titik tersebut diidentifikasi sebagai lokasi sumbatan.
“Kami gunakan bola yang terpasang chip GPS. Kalau dalam setengah jam tidak bergerak, berarti ada kendala. Tim langsung turun untuk memastikan apa yang menyumbat, bisa kasur, ban, sampah, atau sedimen,” ujar Agustina.
Ia menegaskan, setiap temuan langsung kami tindaklanjuti di lapangan. Selain sampah, tim menemukan penyempitan di Saluran Gendong yang tertutup cor beton tebal serta minimnya saluran pembuangan menuju sungai.
“Saya minta cor yang menutup saluran segera dibongkar. Kami juga izinkan penambahan saluran agar air dari hulu lebih cepat mengalir ke sungai,” tegasnya.
Agustina memastikan simulasi GPS drifter tidak berhenti di Simpang Lima. Pemerintah kota berencana memperluas metode ini ke kawasan Pandanaran dan Ahmad Dahlan. Sekaligus memperbarui peta drainase yang perencanaannya sempat terputus selama puluhan tahun.
“Penanganan genangan kami lakukan berlapis, dari hilir sampai hulu. Kalau di Simpang Lima sudah tertangani tetapi masih ada genangan, berarti hulunya juga harus kami benahi,” ujarnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





