SEMARANG, beritajateng.tv – Dihempas angin kencang, puluhan rumah di lingkungan RT 01 RW 04 Dusun Durenan, Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, mengalami kerusakan.
Angin tak hanya memporak-porandakan genting maupun asbes atap rumah; sejumlah kanopi pun turut beterbangan. Bahkan kanopi sebuah toko bangunan terhempas sejauh 50 meter dari lokasi awal.
Ketua RT 01 RW 04 Dusun Durenan, Afif Maskon, menuturkan, peristiwa angin ribut yang terjadi di lingkungannya terjadi pada Sabtu, 1 November 2025 petang.
BACA JUGA: Mulai Sering Hujan Lebat, BPBD Blora Imbau Warga Siaga Angin Kencang hingga Banjir
Sebelum peristiwa terjadi, sebagian besar wilayah Desa Wonorejo hujan lebat semenjak sore. Sekitar pukul 18.15 WIB, tiba-tiba angin bertiup kencang, membuat genting-genting rumah warga berhamburan. Termasuk atap dari asbes dan kanopi rumah serta toko milik warga.
Bahkan, kata Afif, kanopi di toko bangunan Wana Mukti lepas konstruksinya dan terbang terbawa angin hingga sejauh 50 meter.
Kencangnya hempasan angin juga mengakibatkan gerobak sebuah warung milik warga ambruk. “Sementara ada 20 rumah yang terdampak kerusakan,” jelasnya saat beritajateng.tv konfirmasi di Dusun Durenan, Minggu, 2 November 2025.
Atap puluhan rumah warga Wonorejo Semarang rusak ringan hingga berat
Kerusakan tersebut umumnya pada bagian atap, dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang. Sejauh ini, tak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa angin ribut di Dusun Durenan itu.
“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya kerusakan bangunan rumah yang sebagian sudah pemilik rumah perbaiki secara mandiri,” tambahnya.
Salah satu warga yang rumahnya terdampak, Wanudi (53), mengungkap akibat hempasan angin yang kencang, hampir sepertiga genting atap rumahnya beterbangan.
BACA JUGA: Hujan Berangin Kencang Terjang Blora, Kanopi Sekolah dan Tribun Petanque Roboh
Selain itu, beberapa kanopi di bagian depan rumah juga rusak akibat galvalumnya terbang. Setelah hujan mereda, genting yang rusak langsung ia ganti dengan bantuan para tetangga secara gotong-royong.
“Takutnya kalau hujan kembali turun, [biar] air tidak langsung masuk ke dalam rumah yang sekaligus untuk toko kelontong,” jelas Wanudi di sela membersihkan pecahan genting di sekitar rumahnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





