SEMARANG, beritajateng.tv – Hasil uji laboratorium kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Semarang menemukan tiga bakteri dalam sampel makanan, yakni Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus, dan Salmonella.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa persoalan dalam penyediaan MBG bukan sekadar insiden teknis. Pengawasan terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan menjadi titik yang harus lebih ketat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan ketiga bakteri terutama ada pada lauk yang para siswa dan guru konsumsi.
“Hasilnya positif mengandung E. coli, Staphylococcus, kemudian Salmonella, terutama pada lauk. Lauknya kemarin rendang ayam dan telur puyuh. Jadi protein di sana positif semuanya,” kata Hakam.
Temuan ini sudah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan. Pemerintah Kota Semarang juga menyiapkan langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
BACA JUGA: Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang, 10 Siswa Masih Jalani Perawatan
Salah satu usulan yang mengemuka adalah pemeriksaan mikrobiologi secara rutin terhadap makanan yang di produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hakam mengatakan pemeriksaan harian menjadi penting karena pola kasus keracunan pangan di Semarang menunjukkan persoalan lebih banyak muncul dari aspek mikrobiologi.
“Dari beberapa kejadian keracunan pangan di Kota Semarang sejak 2025 sampai sekarang, pemeriksaan kimia rata-rata negatif. Tetapi pemeriksaan mikrobiologinya yang banyak positif, seperti E. coli, Salmonella, dan Staphylococcus,” ujarnya.
Menurut Hakam, pemeriksaan kimia mencakup kemungkinan kandungan formalin, boraks, maupun zat pewarna. Seluruh pemeriksaan tersebut dalam kasus-kasus yang ditangani disebut menunjukkan hasil negatif.
Sebaliknya, bakteri justru menjadi persoalan yang berulang. Kondisi ini membuat pengawasan mikrobiologi tidak cukup ketat, setelah masyarakat mengalami keracunan.
“Kalau pemeriksaannya baru setelah keracunan, itu seperti menunggu kejadian. Kita ingin mitigasinya berjalan sebelum kejadian,” tegas Hakam.
180 SPPG Jadi Sasaran Pengawasan
Dinas Kesehatan Kota Semarang mengusulkan pemeriksaan mikrobiologi dilakukan pada seluruh SPPG yang beroperasi di Kota Semarang. Jumlahnya mencapai sekitar 180 titik.





