SEMARANG, beritajateng.tv – Aktivitas belajar mengajar di SMK Negeri 6 Semarang kembali berjalan normal setelah insiden dugaan keracunan massal MBG yang menimpa ratusan siswa dan guru.
Meski sebagian besar korban telah pulih dan kembali mengikuti pembelajaran, hingga Senin (3/8/2026) masih ada 10 siswa yang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Dari data yang pihak sekolah himpun, total sebanyak 707 orang terdampak dalam peristiwa tersebut. Mereka terdiri atas 693 siswa dan 14 guru yang mengalami gejala mual, muntah, diare, sakit perut, hingga pusing.
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan kondisi para korban terus membaik. Sebagian besar siswa sudah kembali masuk sekolah, sementara yang masih menjalani perawatan maupun rawat jalan mendapat dispensasi untuk beristirahat hingga benar-benar pulih.
“Alhamdulillah kondisinya sudah semakin membaik. Sampai kemarin sore masih ada 10 siswa yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hari ini sebagian besar sudah mulai boleh pulang,” ujarnya.
Menurut Berti, sekolah tetap memberikan kelonggaran kepada siswa yang masih menjalani perawatan maupun pemulihan di rumah agar fokus memulihkan kondisi kesehatan.
“Anak-anak yang masih dirawat atau rawat jalan kami beri dispensasi. Mereka tidak wajib mengikuti pembelajaran sampai kondisinya benar-benar pulih,” katanya.
Ia menjelaskan, gejala mulai muncul pada Kamis (30/7) malam, beberapa jam setelah siswa dan guru mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dugaan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium dari instansi terkait.
“Kalau melihat kronologinya, Kamis malam sudah banyak laporan yang mengalami diare. Bahkan beberapa guru juga merasakan hal yang sama. Dugaan sementara memang mengarah ke makanan yang mereka konsumsi hari Kamis. Tetapi kami masih menunggu hasil pemeriksaan resmi,” jelasnya.
Pihak sekolah mencatat total korban yang mengalami keluhan kesehatan mencapai lebih dari 700 orang.
“Kalau siswa sekitar 693 orang, ditambah guru belasan orang. Jadi totalnya sekitar 707 orang yang mengalami gejala,” ungkap Berti.
BACA JUGA: Usai Kasus Keracunan MBG dari SPPG Karangturi, Kepala SMKN 6 Semarang Minta Siswa Bawa Bekal dari Rumah
Salah seorang guru, Noor Aida R, mengaku mulai merasakan gejala keracunan beberapa jam setelah menyantap menu MBG. Berupa nasi putih, ayam rendang, tahu crispy, dan daun singkong. Namun ia mengaku tidak mengonsumsi sayur tersebut.
“Saya makan nasi, ayam rendang, dan tahu crispy. Daun singkong tidak saya makan. Malam sekitar pukul 23.00 badan mulai sakit semua, kemudian perut terasa mulas dan saya bolak-balik ke kamar mandi,” tuturnya.
Salah seorang siswa, Narel mengalami hal serupa. Ia mengaku sempat mengalami sakit perut hebat usai mengonsumsi menu makan siang tersebut.
“Perut saya mulas sekali seperti melilit. Tapi saya hanya minum air kelapa dan akhirnya berangsur membaik,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah menghentikan sementara distribusi Program Makan Bergizi Gratis kepada siswa hingga penyelidikan selesai dilakukan.
Sementara itu, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi makanan tersebut juga berhenti sementara selama proses investigasi berlangsung.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium dan penyelidikan epidemiologi dari instansi berwenang. (*)





