Menyapa Nusantara

Tingkatkan Ketahanan Pangan, Mentan RI Upayakan Pertanian Modern dan Magang Bagi Petani Milenial

×

Tingkatkan Ketahanan Pangan, Mentan RI Upayakan Pertanian Modern dan Magang Bagi Petani Milenial

Sebarkan artikel ini
petani milenial
Santri memamen jagung di ladang pertanian Pondok Pesantren Darul Muttaqien di Jabon Mekar, Parung, Bogor, Jawa Barat. (Foto: ant)

Salah satu contoh sukses dari petani milenial adalah Shofyan Adi Cahyono (25). Dia berhasil mengembangkan usaha Sayur Organik Merbabu (SOM) di lereng

Gunung Merbabu, Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Shofyan dan kelompok tani Citra Muda yang dipimpinnya mengelola lahan pertanian seluas 10 hektar. Ada sekitar 30 petani milenial yang bergabung dalam kelompok tani tersebut, dan Shofyan juga menjalin kemitraan dengan 400 petani organik.

Shofyan menanam 50 jenis tanaman sayuran dan sedang menguji 70 varian lainnya. Hasil panen sayurannya telah dikirim ke berbagai kota di Pulau Jawa, bahkan hingga Kalimantan Selatan.

Dalam upaya membangun ekosistem pertanian yang sehat, Shofyan berharap pemerintah dapat membantu dalam tiga hal, yaitu meningkatkan sumber daya manusia melalui pelatihan, membantu akses pembiayaan, dan memperkuat hubungan antara petani dan pasar.

Meskipun sudah meraih banyak penghargaan dan prestasi, Shofyan tetap memiliki obsesi untuk mengembangkan integrated farming sebagai bentuk agroeduwisata. Hal ini akan menjadi sarana untuk mendukung pertanian yang modern dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Kisah Petani Milenial Lain dari Magelang

Selain Shofyan, ada petani milenial lain yang berasal dari Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ikhsanuddin (36) adalah pendiri SOGA Farm Indonesia. Meskipun nama SOGA berasal dari Strawberry Organik Gunung Andong, Ikhsan tidak hanya menanam stroberi, tetapi juga berbagai jenis sayuran seperti brokoli, bayam Jepang, pakcoy, bit, tomat ceri, dan lain-lain.

Ikhsan, yang merupakan lulusan pendidikan sains, menggunakan sistem rumah kaca untuk bertani di lahan seluas satu hektar. Dia juga menerima mahasiswa magang untuk belajar di tempatnya. Ikhsan mengaku masih belum berani mengembangkan komoditas hortikultura organik karena permintaan pasar yang masih rendah.

Permintaan saat ini adalah sayuran organik yang memiliki penampilan menarik, ukuran besar, dan harga yang terjangkau. Permintaan seperti ini sulit terpenuhi karena sayuran organik sejati cenderung memiliki penampilan kurang menarik dan ukuran kecil.