Jateng

Tolak Kampus Top Dunia di London Demi FK UI, Ini Kisah Inspiratif Anindya Rarasati

×

Tolak Kampus Top Dunia di London Demi FK UI, Ini Kisah Inspiratif Anindya Rarasati

Sebarkan artikel ini
siswi al azhar
Anindya Rarasati (18), siswi SMA Islam Al Azhar 14 Semarang yang berhasil mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari delapan perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri. (Dok. Pribadi)

Mimpi Besar di Bidang Perawatan Kesehatan dan Pengabdian

Meskipun jurusan yang diterimanya bervariasi antara Kedokteran dan Hubungan Internasional, Anindya sebenarnya memiliki benang merah cita-cita yang jelas. Ia ingin berfokus pada international financial development demi memperjuangkan penyetaraan perawatan kesehatan (healthcare).

Pilihan jatuhnya ke FK UI pun berdasar dari niat murni untuk mengabdi secara langsung kepada masyarakat.

“Untuk kedokteran saya pilih di Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran. Saya ingin membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung,” tegasnya.

Perjuangan Tembus Kampus Inggris IELTS 7 hingga Personal Statement

Keberhasilan Anindya menembus universitas di Inggris tidak ia dapat secara instan. Dukungan penuh dari pihak sekolah dan guru SMA Islam Al Azhar 14 Semarang menjadi modal utamanya.

Untuk memenuhi standar pendidikan Inggris, Anindya sempat mengikuti International Foundation Program selama enam bulan di Inggris. Dari sana, ia mengenal sistem pendaftaran portal UCAS (Universities and Colleges Admissions Service).

“Dari situ saya lebih terbuka akan peluang-peluang. Saya jadi paham bagaimana cara mendaftar langsung ke universitas di Inggris melalui UCAS. Itu kayak portal SNPMB, kita bisa memilih lima universitas sekaligus,” jelas Anindya.

Melalui jalur tersebut, ia mengamankan dua unconditional offer (ditolak/diterima tanpa syarat tambahan) dari King’s College London. Sebelumnya, saat kelas 11, ia juga sudah mengantongi conditional offer berbasis nilai rapor dari City College Plymouth.

Tak hanya itu, Anindya harus berjuang selama lima bulan untuk meraih skor IELTS 7. “Kalau menurut saya IELTS 7 itu kadang masih terasa kurang untuk survive sehari-hari di perkuliahan karena kosakatanya pasti jauh lebih tinggi,” katanya.

Selain nilai tes dan akademik, Anindya menekankan pentingnya personal statement serta konsistensi kegiatan ekstra yang relevan dengan minat risetnya di bidang kebijakan publik dan kesehatan.

“Mereka ingin melihat kenapa kita cocok diterima di universitas tersebut. Jadi bukan cuma nilai, tapi juga konsistensi minat dan kegiatan yang kita lakukan,” tambahnya.

Dukungan Tanpa Tuntutan dari Orang Tua