Viral

Tragedi Gunung Slamet 1985, Kisah Pendaki Gunung Asal Semarang Hilang

×

Tragedi Gunung Slamet 1985, Kisah Pendaki Gunung Asal Semarang Hilang

Sebarkan artikel ini
Jalur Pendakian Gunung Slamet | Pendaki Slamet | Gunung Slamet
Gunung Slamet di Jawa Tengah. (Foto: Instagram/@slametmountain)

PURBALINGGA, beritajateng.tv – Tragedi Gunung Slamet kembali menyisakan duka mendalam bagi keluarga pendaki dan komunitas pecinta alam. Peristiwa hilangnya pendaki muda Syafiq Ali menggugah ingatan lama tentang kisah pilu serupa. Harapan keluarga sempat tumbuh selama proses pencarian panjang. Doa terus mengalir dari berbagai penjuru negeri.

Gunung Slamet selama ini dikenal sebagai gunung favorit pendaki. Keindahan alam serta tantangan jalur membuat banyak orang ingin menaklukkannya. Namun, risiko selalu mengintai setiap langkah pendakian. Catatan sejarah menunjukkan beberapa tragedi pernah terjadi.

Pencarian Syafiq Ali berlangsung melelahkan serta penuh risiko. Tim SAR dan relawan bekerja tanpa mengenal waktu. Medan terjal serta cuaca ekstrem menuntut kewaspadaan tinggi. Akhirnya, upaya panjang tersebut membuahkan hasil.

Koordinator relawan SAR Slamet, Rudi Hartono, menyampaikan rasa haru. “Seluruh tim bekerja maksimal meski kondisi sangat berat,” ujar Rudi. Menurutnya, solidaritas relawan menjadi kekuatan utama pencarian.

Selain tragedi terbaru, Gunung Slamet menyimpan kisah lama menyayat hati. Tahun 1985 mencatat peristiwa hilangnya tiga mahasiswa IKIP Negeri Semarang. Mereka bernama Alex Puji Winarto, Iqbal Latif, serta Gagah Pribadi.

BACA JUGA: Cek Rekomendasi Wisata di Sekitar Kaki Gunung Slamet, Lengkap dengan Lokasi dan Harga Tiket Masuk

Peristiwa tersebut terjadi Januari 1985. Alex akhirnya selamat setelah tersesat selama tiga belas hari. Sementara itu, Iqbal ditemukan meninggal pada dasar jurang. Hingga kini, Gagah belum pernah kembali.

Alex Puji Winarto menceritakan pengalaman pahit tersebut. “Kabut sangat tebal membuat kami kehilangan arah,” kata Alex, seperti beritajateng.tv kutip dari kanal YouTube RJL 5.

Alex mengenang momen puncak pendakian Slamet. “Kabut Slamet waktu itu tidak pernah saya jumpai sebelumnya,” ucapnya. Menurut Alex, situasi pendakian masa itu jauh berbeda.

Alex juga menyinggung budaya pendakian era tersebut. “Pendakian bawah tiga ribu meter belum terasa menantang,” tuturnya. Pandangan tersebut berkembang kuat kalangan pendaki senior kala itu.

Tragedi Gunung Slamet dan Kisah Pilu 1985

Cerita semakin emosional ketika Alex mengingat Iqbal. Ia mengenang sahabatnya meminta izin memetik Edelweiss. “Iqbal ingin bunga itu sebagai simbol permintaan maaf,” ujar Alex lirih.

Menurut Alex, konflik perasaan melatarbelakangi niat tersebut. Hubungan persahabatan mereka sempat teruji oleh perasaan cinta. Namun, Alex menegaskan tidak ada niat buruk.

“Persahabatan kami sangat kuat sebelum pendakian,” katanya. Ia mengaku rasa bersalah masih membekas hingga kini. Setiap ingatan Slamet selalu memunculkan luka lama.

Kisah tersebut menunjukkan betapa Gunung Slamet menyimpan risiko serius. Keindahan alam sering menutupi bahaya nyata. Oleh sebab itu, kesiapan mental dan fisik menjadi keharusan.

BACA JUGA: Nekat Mendaki Gunung Slamet Tanpa Izin Orangtua, Naomi: Kejadianku Jadi Pembelajaran

Tragedi hilangnya Syafiq Ali kembali membuka luka kolektif. Komunitas pendaki menyerukan peningkatan kesadaran risiko. Gunung Slamet tetap memesona, namun kewaspadaan harus selalu menyertai.

Melalui refleksi panjang, Tragedi Gunung Slamet menjadi pengingat keras. Alam menuntut rasa hormat serta persiapan matang. Setiap langkah pendakian membawa tanggung jawab besar. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp