SEMARANG, beritajateng.tv – Anak muda Semarang punya cara baru yang unik dan seru untuk membangun pertemanan: makan bersama orang yang sama sekali belum pernah mereka kenal. Lewat kegiatan bertajuk Eat With Stranger, puluhan peserta dari berbagai usia duduk satu meja, berbagi makanan, cerita, dan tawa tanpa embel-embel status sosial.
Kegiatan ini merupakan inisiasi komunitas Temcy Positivity berkolaborasi dengan Kafe Rice Pepper Scissor Gajahmungkur dan baru saja menggelar Eat With Stranger. Konsepnya sederhana namun bermakna, peserta datang tanpa tahu akan duduk bersama siapa, lalu diajak berbincang melalui panduan kartu pertanyaan.
Meja panjang dipenuhi peserta yang saling berhadapan. Awalnya canggung, beberapa hanya tersenyum sambil memainkan kartu pertanyaan di tangan. Namun perlahan suasana mencair. Tawa pecah, obrolan mengalir, dan jarak antarmanusia seolah runtuh hanya karena satu pertanyaan sederhana.
Makan Bareng, Cerita Mengalir Tanpa Beban
Hani, inisiator Temcy Positivity, menjelaskan bahwa Eat With Stranger adalah ruang aman untuk siapa saja, termasuk mereka yang introvert atau baru tinggal di Semarang.
“Ini Eat With Stranger Part 2. Kita makan bareng sama orang yang literally enggak kita kenal sama sekali. No clue. Yang datang siapa kita enggak tahu,” kata Hani.
BACA JUGA: Rekomendasi Kafe Semarang yang Nggak Boleh Kamu Lewati, Wajib Nongkrong di Sini
Menurutnya, kegiatan ini terbuka untuk semua usia. Mulai dari Gen Z, milenial, hingga peserta berusia 35-40 tahun bahkan di atasnya.
“Banyak yang perantau, kerjaannya sudah oke, tapi enggak punya teman di Semarang. Akhirnya mereka cari ruang buat ngobrol, buat kenal orang baru, ya di sini,” ujarnya.
Untuk mengatasi kecanggungan, panitia menyiapkan kartu berisi pertanyaan sebagai panduan diskusi.
“Tenang aja, di sini ada guide-nya. Ada kartu pertanyaan, dijawab satu-satu. Jadi bukan cuma ngomong, tapi juga belajar dengerin,” jelas Hani.
Cerita Unik yang Tak Terduga
Menurut Hani, hal paling menarik dari Eat With Stranger justru datang dari latar belakang peserta yang beragam.
“Ada yang kerjanya pernah sampai didemo pakai senjata tajam, ada juga cewek yang cerita dia first date tiap hari sama orang berbeda. Ceritanya unik-unik banget,” ungkapnya.
Topik obrolan pun mengalir natural, dari pengalaman kerja, kehidupan perantauan, sampai bahasan ringan seperti restoran viral yang ternyata overrated.
“Kadang kita bahas restoran viral, tapi ternyata biasa aja. Bahkan ada cerita nemu tikus di restoran gede,” katanya sambil tertawa.
Salah satu peserta, Pute, mengaku mengikuti Eat With Stranger karena ingin menambah teman dan wawasan baru.
“Aku pengin punya teman baru, punya insight baru dari orang-orang. Yang kedua ini beda dari yang pertama karena orang-orangnya juga beda,” katanya.
BACA JUGA: Honda Neo Sport Cafe CB650R 2025 Resmi Meluncur, Tampil Gagah Seharga Rp300 Jutaan
Ia bahkan memastikan akan kembali jika acara serupa berlangsung lagi. “Kalau ada volume 3, mau ikut lagi dong. Seru banget,” ujarnya.
Sementara itu, Gita, mahasiswa yang baru pertama kali ikut, mengaku awalnya sempat gugup.
“Awalnya agak takut karena ketemu orang baru. Tapi lama-lama kebawa suasana, jadi seru dan banyak ngobrol,” katanya.
Menurut Gita, Eat With Stranger memberi pengalaman baru yang jarang ditemui di Semarang.
“Aku sering lihat konsep kayak gini di Jogja atau Jakarta. Pas tahu ada di Semarang, langsung tertarik,” ujarnya.
Lewat Eat With Stranger, Temcy Positivity dan Rice Pepper Scissor juga ingin membuktikan bahwa meja makan bisa menjadi ruang pertemuan yang hangat. Bukan sekadar menyantap hidangan, tetapi juga menyatukan cerita, membuka pertemanan, dan menghadirkan rasa “pulang” bagi mereka yang merasa sendirian di kota sendiri. (*)
Editor: Farah Nazila





