SEMARANG, beritajateng.tv – Sebuah video berdurasi 25 detik yang membahas iring-iringan mobil bersirene “tot-tot wuk-wuk” menyalip kendaraan Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi sorotan publik.
Informasi itu beroleh tanggapan pengamat politik Hersubeno Arief lewat kanal YouTube-nya, Hersubeno Point, pada Minggu, 12 Oktober 2025.
Dalam videonya, Hersubeno menyoroti tindakan rombongan pejabat yang tetap melaju meski lampu lalu lintas menyala merah, sementara mobil pribadi Sri Sultan berhenti dengan tertib.
“Ini menarik, bagaimana seorang gubernur sekaligus sultan yang punya kewibawaan besar justru menunggu lampu hijau dengan sabar, sedangkan rombongan pejabat lain melaju tanpa peduli aturan,” ujar Hersubeno.
Menurutnya, kejadian itu memperlihatkan kontras antara keteladanan dan arogansi pejabat di jalan raya.
Video yang menampilkan mobil hitam berpelat AB 10 HBX itu viral di media sosial sejak Sabtu, 11 Oktober 2025. Warganet ramai memuji sikap tertib Sri Sultan dan mengecam iring-iringan kendaraan yang tetap melaju.
“Publik marah karena bosan dengan perilaku semacam ini,” ucap Hersubeno dalam tayangan tersebut.
Ia menilai, masyarakat sudah jengah dengan pejabat yang merasa berhak mendapat perlakuan istimewa di jalan.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Agus Suryonugroho, menegaskan langkah tegas dengan menghentikan sementara penggunaan sirene dan rotator.
“Kami hentikan penggunaan suara pengawalan sambil evaluasi menyeluruh,” katanya.
Hersubeno menilai langkah itu sudah tepat. “Publik perlu bukti nyata, bukan sekadar pernyataan. Karena penyalahgunaan sirene sudah terlalu sering,” tegasnya.
Stafsus Menko AHY bantah rombongannya salip mobil Sri Sultan HB X
Koordinator Humas Kominfo DIY, Dian Nanario, mengonfirmasi bahwa kendaraan dalam video memang mobil pribadi Sri Sultan.
Ia menjelaskan, saat kejadian, Sultan tengah mendampingi Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kepulauan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam kunjungan ke Bantul dan Gunung Kidul.
Namun, Dian menekankan bahwa dugaan keterlibatan rombongan AHY masih perlu klarifikasi dari kementerian terkait.
Staf Khusus Menko Infrastruktur, Herzaki Putra Mahendra, kemudian membantah tudingan tersebut. “Menko AHY sudah meninggalkan lokasi sekitar 30 menit sebelum kejadian,” tegasnya.
Hersubeno menilai klarifikasi itu terlambat. “Keterlambatan respons justru memperburuk persepsi publik. Apalagi netizen cenderung lebih percaya pada narasi yang sudah terlanjur viral,” katanya.
Menurut Hersubeno, peristiwa ini menjadi pelajaran bagi pejabat publik agar lebih sensitif terhadap sentimen masyarakat.
“Kalau Sultan saja taat aturan, semestinya pejabat lain malu kalau bertingkah seolah jalan milik sendiri,” tandasnya. (*)





