Gaya Hidup

Viral Tren S-Line: Antara Ekspresi Diri, Validasi Sosial, dan Risiko Psikologis

×

Viral Tren S-Line: Antara Ekspresi Diri, Validasi Sosial, dan Risiko Psikologis

Sebarkan artikel ini
tiktok
Ilustrasi aplikasi TikTok. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tren S-Line yang ramai di media sosial belakangan ini bukan sekadar gaya estetika visual yang meniru lekukan tubuh ala selebritas Korea Selatan.

Berawal dari tren visual ala Drama Korea (Drakor), kini istilah tersebut telah meluas menjadi simbol yang mengandung makna kompleks. Mulai dari identitas, hubungan romantis, hingga eksplorasi orientasi seksual.

Di balik simbol dan tagar yang sering menyertai unggahan para remaja, ada fenomena psikologis yang lebih dalam seperti eksplorasi identitas, pencarian eksistensi, hingga jebakan validasi digital.

“Dulu istilah semacam itu lebih berkaitan dengan meme-meme porno atau komentar seksual. Tapi sekarang, S-Line berkembang menjadi simbol kedekatan emosional, relasi romantis, dan bahkan identitas seksual,” ujar Nuke Martiarini, S.Psi., M.A. saat beritajateng.tv temui di kantornya pada Rabu, 23 Juli 2025.

Antara eksplorasi diri dan konformitas

Unggahan bergaris merah dengan tagar S-Line atau ‘sex line’ tidak selalu bermakna provokatif.

BACA JUGA: Spill Episode 4 Drakor S Line, Misteri Kacamata dan Bahaya Hubungan Gelap Mulai Tersingkap

Bagi banyak anak muda, itu adalah simbol eksplorasi untuk mencoba mengenal diri, relasi, dan batasan sosial mereka.

“Ada dua motif umum, ingin di terima oleh teman sebayanya (konformitas), atau sedang menjajaki ketertarikan yang mereka belum sepenuhnya pahami,” jelasnya.

Masalahnya, kata Dosen Psikologi UNNES tersebut, eksplorasi ini sering kali tidak di barengi dengan pengetahuan yang cukup. Akibatnya, banyak remaja justru terseret lebih jauh ke dalam lingkungan atau citra yang tidak mereka pahami sepenuhnya atau bahkan tidak mereka kehendaki.

Budaya viral lebih kuat dari norma?

Menariknya, bukan hanya remaja biasa yang terlibat dalam tren ini. Beberapa figur publik muda bahkan terang-terangan mengikuti tren tersebut demi menjadi viral, meski telah memiliki reputasi mapan.

“Zaman sekarang, standar bukan lagi soal moral atau norma, tapi apa yang bisa viral dan menghasilkan materi. Banyak yang sadar penuh mereka sedang memprovokasi, tapi itu dianggap sebagai jalan cepat menuju popularitas,” ujarnya.

Dengan algoritma media sosial yang mengutamakan sensasi, banyak unggahan semacam itu justru mendapatkan perhatian lebih, mendorong lebih banyak pengguna untuk meniru tanpa tahu dampaknya.

Tren dengan risiko depresi hingga gangguan identitas

Di balik viralitasnya, tren ini menyimpan potensi bahaya tersembunyi bagi remaja yang belum sepenuhnya memahami makna dan dampaknya.

“Ketika anak-anak ini sadar bahwa mereka terlanjur ‘branding diri’ secara salah, keluar dari lingkaran itu sangat sulit. Akibatnya bisa sampai pada stres berat, depresi, bahkan gangguan kepribadian,” kata Nuke.

Keterikatan dengan lingkaran sosial digital yang semu bisa membuat mereka merasa terperangkap. Terlebih, jejak digital tak bisa benar-benar dihapus.

“Bukan cuma sulit dihapus, tapi jejak itu bisa digunakan untuk melacak dan memanipulasi,” ujarnya tegas.

BACA JUGA: Awal yang Bikin Merinding, 6 Momen Kunci di Episode Pertama Drama Korea S Line

Fenomena S-Line menggarisbawahi pentingnya literasi digital dan pendidikan kesehatan mental sejak dini. Menurut Nuke, remaja perlu dibekali kemampuan memahami makna simbol, tren, dan konsekuensi digital atas setiap tindakan online mereka.

“Validasi sosial memang di butuhkan remaja. Tapi cara mencapainya perlu diarahkan. Jika tidak, media sosial akan menjadi ladang jebakan eksistensial yang berisiko,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp