Setelah bermalam di puncak, mereka melanjutkan kegiatan pada keesokan harinya, Jumat, 11 Juli, dengan doa bersama dan bacaan tawasul, sebuah bacaan yang umumnya berlangsung dalam ziarah.
Kegiatan Ziarah Selama 14 Tahun
Menurut Mulyadi, kegiatan ziarah tersebut telah masyarakat lakukan setiap tahun selama 14 tahun terakhir oleh kelompok NU tersebut.
Ia menegaskan bahwa bacaan yang mereka lakukan selama ziarah tidak menyimpang dari ajaran Islam.
BACA JUGA: Kronologi Pendaki Berbobot 99 Kg Meninggal Dunia di Gunung Lawu, Sempat Sesak Nafas
Kapolres Magetan, AKBP Raden Erik Bangun Prakasa, juga mengonfirmasi bahwa kegiatan tersebut bukan merupakan aliran sesat.
“Betul, kita sudah cek video yang viral tersebut, dan lokasi memang benar di puncak Gunung Lawu. Kami juga sudah melakukan konfirmasi ke pihak pengelola dan Perhutani KPH Lawu,” kata Kapolres Erik.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ritual serupa sering para pendaki lakukan di bulan Suro, sebuah bulan dalam penanggalan Jawa yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. (*)





