Hingga saat ini, para keluarga pekerja tambang yang ada di Sawahlunto masih memiliki kekerabatan dalam bentuk ‘Dulur Tunggal Sekapal’.
“Ini sejarah yang kita punya, dan sampai hari ini keluarga pekerja tambang masih ada di Sawahlunto dalam bentuk kekerabatan dulur tunggal sekapal dan hidup berdampingan bersama sama seluruh masyarakat yang ada di Sawahlunto,” katanya
Dikatakannya masih banyak buku-buku literatur sejarah yang berbeda, maka kemudian diperlukan kajian yang lebih komprehensif kaitannya dengan sejarah Samin Surosentiko.
“Masih banyak buku-buku literatur sejarah yang berbeda oleh karena itu saya dengan Pak Bupati melakukan Webinar, harus ada kajian yang lebih komprehensif,” ucapnya
Walikota Sawahlunto menyampaikan bahwa kedepannya akan ada rencana untuk menjalin kerjasama lebih lanjut untuk menggali potensi budaya yang ada.
“Kedepan tentu kita harus kaji lagi, kami diskusi panjang lebar dengan Pak Bupati, tadi mungkin akan ada rencana MoU atau semacam kesepakatan kerjasama untuk menggali potensi budaya dan silaturahmi. Sebab kedatangan kami kesini mewakili pemerintah kota Sawahlunto dan mewakili keluarga-keluarga Samin yang sekarang masih ada,” pungkasnya.
Salah satu tokoh Sedulur Sikep dari Blora, Mbah Pramugi, menyampaikan bahwa Samin dan pengikutnya melakukan perlawanan kepada penjajah tanpa menggunakan kekerasan. Termasuk sikap menolak terhadap penjajah.
“Samin sak pendereknya lawan Belanda tanpa pakai kekerasan, karena Sedulur Sikep iku wes kondang kaloka, ora seneng tukar padu, ora seneng gegeran, seneng ane kerukunan,” paparnya
Salah satu tokoh sedulur sikep dari Bojonegoro, Bambang Sutrisno, menyampaikan bahwa ajaran Samin Surosentiko sudah ditetapkan sebagai warisan budaya.
“Di tahun 2019 ajaran Samin Surosentiko sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di tahun 2019,” ucapnya
Gunretno salah satu tokoh sedulur Sikep, mengatakan pada kesempatan tersebut pihaknya sekaligus ingin mengetahui tanggapan Walikota terkait sosok Samin Surosentiko.





