SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus meninggalnya seorang balita akibat infeksi cacing gelang masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Cacing ini adalah parasit yang dapat bertahan hidup di usus dan bahkan berkembang biak hingga menyerang organ lain bila penanganannya terlambat.
Lalu, bagaimana cacing ini bisa masuk ke tubuh manusia? Berikut informasi mengenai penyebab serta cara mengatasinya.
BACA JUGA: Dua Ribu Lebih Perempuan di Jateng Idap Kanker Serviks, Dinkes Gencarkan Vaksinasi HPV
Gejala
Pada banyak kasus, ascariasis tidak menunjukkan gejala apa pun. Keluhan biasanya baru terasa ketika jumlah cacing dalam tubuh semakin banyak.
Tanda-tanda ascariasis juga bervariasi, tergantung organ yang terkena infeksi. Jika larva cacing gelang masuk ke paru-paru, penderita bisa mengalami gejala yang mirip dengan asma atau pneumonia.
Cara Mengatasi
Dalam beberapa kasus, ascariasis bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Namun, bila gejala muncul, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Langkah pengobatan utama biasanya berupa pemberian obat cacing, seperti pirantel pamoat, mebendazole, piperazine, atau albendazole, dengan dosis 1–3 kali dalam sehari.
Jika infeksi sudah parah atau menimbulkan komplikasi, dokter mungkin akan melakukan operasi untuk mengangkat cacing dari usus sekaligus memperbaiki kerusakannya.
Penyebab Ascariasis atau Cacing Gelang
Telur cacing gelang biasanya terdapat di tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia.
Karena itu, seseorang bisa tertular ascariasis jika menyentuh tanah tersebut tanpa mencuci tangan, atau melalui konsumsi buah serta sayuran yang tidak dibersihkan dengan baik.
Begitu masuk ke dalam tubuh, telur akan menetas di usus dan berkembang menjadi larva.
Dari sana, larva berpindah ke paru-paru lewat aliran darah atau sistem getah bening.
Setelah 10–14 hari berada di paru-paru, larva bergerak menuju tenggorokan. Pada fase ini, penderita bisa mengeluarkannya lewat batuk, atau justru menelannya kembali sehingga larva kembali masuk ke usus.
BACA JUGA: Strategi PKBI Semarang Tekan Laju HIV dari Akar, Layanan Extra Time hingga Edukasi Hulu ke Hilir
Larva yang kembali ke usus akan berkembang menjadi cacing jantan maupun betina, lalu bereproduksi.
Seekor cacing betina dapat tumbuh hingga sepanjang 40 cm dengan diameter sekitar 6 mm, serta mampu menghasilkan kurang lebih 200.000 butir telur setiap harinya.
Sebagian telur akan dikeluarkan bersama feses dan mencemari tanah, sedangkan sebagian lainnya menetas, lalu berpindah ke paru-paru sebelum kembali lagi ke usus dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Seluruh siklus ini berlangsung sekitar 2–3 bulan. (*)





