SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyatakan belum ada masyarakat di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah (Jateng) yang terkonfirmasi Hantavirus. Kendati demikian, langkah pencegahan terus dinas kesehatan lakukan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengatakan kasus terkonfirmasi hanta virus pernah terjadi pada 2023. Namun, sebanyak 3 persen dari 110 orang yang tersampling kini telah sembuh.
“Di 2023 itu, dari 110 sampel manusia. Ada kurang lebih tiga persen yang positif Hantavirus,” ujar Hakam di Kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang, Senin, 11 Mei 2026.
Data tahun berikutnya, pada 2024 dan 2025 dengan jumlah sampel manusia sama menunjukkan negatif. Sementara itu, pada 2025 sampling pada tikus justru menunjukkan 30 persen positif bakteri Leptospirosis.
Namun, pada tahun ini, pihaknya menyebut ada kenaikan kasus positif Hantavirus secara signifikan di luar negeri yang perlu kita waspadai.
“Alhamdulillah sampai detik ini belum ada temuan, baik di 38 rumah sakit maupun 40 puskesmas yang ada di Kota Semarang,” katanya.
Kini, pihaknya memasifkan gerakan Pemberantasan Tikus Permukiman (PTP) ke seluruh lapisan masyarakat Kota Semarang. Langkah ini untuk menekan angka Leptospirosis yang makin melonjak pada 2026 berjalan ini.
“Nah, sejalan dengan itu, karena perantaranya sama-sama dari tikus, maka pemberantasan terus kami masifkan,” jelas Hakam.
Dia menerangkan, penularan Hantavirus dapat terjadi melalui gigitan tikus atau paparan air kencing tikus yang terinfeksi virus. Gejala yang muncul pun hampir mirip dengan Leptospirosis, bahkan menyerupai Covid-19 dan demam berdarah.
BACA JUGA: Hantavirus di Kapal Pesiar Jadi Sorotan, Dokter Tirta Bagi 3 Tips Pencegahan
“Sama, kalau Lepto bakteri, kalau Hanta ini virus,” tuturnya.
Hakam membenarkan gejala terkonfirmasi Hantavirus juga menyerupai Demam Berdarah hingga Covid-19, yaitu demam tinggi dengan masa inkubasi antara tujuh sampai 14 hari.
“Yang dirasakan adalah demam tinggi, badannya sakit semuanya, ngilu. Yang membahayakan virus ini menyerang saluran napas. Gagal napas, seperti kayak orang pneumonia atau radang paru. Hati-hati,” kata Hakam.
Hingga saat ini belum tersedia antivirus khusus untuk menangani Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada peningkatan daya tahan tubuh pasien dan pengurangan gejala klinis yang muncul.
“Karena ini virus, sebenarnya yang paling penting adalah sistem kekebalan tubuh pasien. Antivirus khusus Hantavirus memang belum ada,” ujarnya.
Pasien yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit akan mendapatkan terapi suportif seperti menjaga kondisi tubuh tetap stabil, pemberian obat penurun gejala, serta pemenuhan nutrisi dan cairan tubuh.
“Pasien harus mau makan, minum, dan mengonsumsi obat agar kondisi tubuh tetap baik. Kalau imunitasnya tinggi, virusnya pasti akan mati dengan sendirinya,” katanya.
Namun, apabila infeksi sudah menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan gagal napas, pasien akan mendapatkan penanganan intensif. Termasuk pemberian alat bantu pernapasan hingga perawatan di ruang intensive care unit (ICU).
“Seorang dokter pasti akan tahu gejala orang mau gagal napas melalui pemeriksaan medis, termasuk blood gas analysis atau analisis gas darah. Kalau kondisinya mendekati gagal napas, maka akan dipersiapkan masuk ICU atau ruang perawatan khusus,” ujar Hakam. (*)





