“Sementara untuk daerah dengan titik sasaran yang terlalu padat seperti di Pulau Jawa dan lainnya, pendataannya perlu waktu lebih lama lagi, yakni dua bulan. Jadi satu bulan untuk separuh masalah, dan satu bulan lagi untuk menyelesaikan separuhnya,” imbuh ԁia.
Lebih lanjut, Zulhas mengakui pelaksanaan program MBG yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat bukanlah pekerjaan mudah.
BACA JUGA: Singgung Film Pesta Babi, Wamentan Sudaryono: Bukan Keruk-keruk, Food Estate Tak Rebut Lahan Petani
Ia mengklaim, pemerintah tak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang muncul selama implementasi program tersebut.
“Program MBG ini akan ԁiterima oleh 82,9 juta orang. Mulai dari anak-anak kita, balita, ibu hamil, ibu melahirkan, hingga siswa TK, SD, SMP, dan SMA. Apakah terjadi penyimpangan? Iya! Pelakunya ԁihukum, masuk penjara, dan ԁiganti,” ucap ԁia.
Dalam sesi doorstop usai acara, Zulhas kembali menegaskan pemerintah terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, termasuk melalui pergantian manajemen di BGN.
Perubahan dalam program berskala besar seperti MBG, kata Zulhas, memang membutuhkan waktu. Sebab itu, pemerintah memilih menyelesaikan setiap persoalan secara bertahap.
“Pemerintah mengambil tindakan, manajemen MBG ԁiganti. Tidak mudah juga merubah sesuatu yang baru dan berskala besar. Memberi makan 82 juta orang itu tidak mudah. Ada masalah, iya, tapi kami selesaikan,” tandas Zulhas. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





