“Dari 13.000 (titik SPPG) itu sebagian artinya. Nah sebagian besar, itu kita perlu waktu dua bulan. Itu ada di Sumatra, ada di Jawa, ya. 3T juga namanya, yang 13.000 tadi,” jelas Zulhas.
Ia mengatakan, pemerintah masih melakukan kajian lebih lanjut mengenai skema pembukaan SPPG yang belum masuk dalam prioritas tahap pertama. Pemerintah akan menyampaikan perkembangan terkait operasional dapur MBG tersebut setelah proses persiapan selesai.
“Yang sisanya dua bulan akan kita set bentuknya apa nanti, kita akan jelaskan berikutnya,” sambungnya.
Target Pembukaan SPPG Prioritas Sebelum 5 Agustus
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya juga menyampaikan bahwa pemerintah memang memberikan perhatian khusus terhadap daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi.
Menurut Budi, percepatan pembukaan dapur MBG di wilayah tersebut merupakan hasil kesepakatan pemerintah untuk memperluas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis sekaligus mempercepat penanganan masalah gizi anak.
Pemerintah kini telah mengidentifikasi sejumlah lokasi yang dinilai siap untuk menjalankan operasional SPPG. Titik-titik tersebut nantinya akan terputuskan untuk segera buka di wilayah prioritas.
Budi mengatakan keputusan mengenai pembukaan SPPG di daerah dengan angka stunting tinggi di target sebelum 5 Agustus 2026.
“Yang stunting itu saya baru wa, termasuk sampai lokasi-lokasinya sudah ada Kabupaten/Kota-nya. Itu nanti akan segera terputuskan oleh Bapak Kepala BGN sebelum tanggal 5 (Agustus) segera SPPG, yang sudah siap itu dibuka langsung di daerah-daerah yang memang stuntingnya tinggi,” kata Budi.
BACA JUGA: Gerindra Jateng: Latar Belakang Pertanian Jadi Modal Sudaryono Benahi Program MBG
Dengan skema tersebut, pemerintah berharap pelaksanaan Program MBG dapat semakin luas menjangkau masyarakat, terutama anak-anak yang berada di wilayah dengan persoalan stunting tinggi.
Pembukaan SPPG secara bertahap juga harapannya dapat memastikan setiap dapur memiliki kesiapan operasional yang memadai sebelum mulai melayani penerima manfaat. (*)





