SEMARANG, beritajateng.tv – Komunitas Supermoto Owner Group (SMOG) resmi berdiri pada tanggal 21 Mei 2011 lalu. Semuanya bermula dari beberapa orang yang memiliki hobi motor supermoto yang sama.
Meski komunitas motor lekat dengan citra sebagai raja jalanan, SMOG tak mau disandingkan dengan geng motor pada umumnya. Mereka bahkan merupakan salah satu organisasi motor yang sudah resmi berbadan hukum.
“SMOG adalah salah satu organisasi yang sudah berbadan hukum. Ya, memang serius, untuk mengakomodir membernya dan seluruh chapter yang ada di Indonesia,” jelas Raka, humas SMOG Official, kepada beritajateng.tv, belum lama ini.
Lain dengan geng motor, Raka menegaskan bahwa setiap kegiatan Supermoto Owner Group ataupun para member SMOG selalu dihimbau untuk taat dengan hukum dan aturan. Untuk bergabung pun tak sembarang orang bisa mereka terima.
“Dari awal baik individu maupun kelompok, untuk masuk SMOG ada tahapannya. Bukan tahapan kaya geng motor, tapi misal kita lihat dari aktivitasnya, jadi ngga langsung kita approve,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Raka menjelaskan bahwa hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir gesekan-gesekan yang bisa terjadi sesama pengendara motor. Terlebih, kultur setiap komunitas pasti memiliki ciri khas dan aturan masing-masing yang rentan bersinggungan selama di jalanan.
“Ketika SMOG mewajibkan komunitas baru untuk bikin AD/ART yang nantinya bakal dijadikan acuan dan aturan. Mereka bikin AD/ART otomastis ada aturan sendiri, aturan itu istilahnya untuk menjaga member juga di jalanan, seperti keamanan dan kelengkapan motor,” lanjutnya.
Barusan Anniversary ke-12, Kini Supermoto Owner Group Miliki 2.000 Lebih Anggota
Beberapa kegiatan rutin Supermoto Owner Group selenggarakan. Seperti touring, latihan bareng di sirkuit maupun sekedar kumpul mingguan. Namun, menurut Raka, lebih sering anggota SMOG bertemu di bengkel untuk saling bertukar pikiran atau membantu sesama member yang sedang membangun supermoto-nya.
“Kegiatan ada banyak touring, kegiatan sosial, event-event lainnya. Intinya, seperti tujuan komunitas pada umumnya, untuk sharing informasi, jalin komunikasi, dan guyub rukun sesama supermoto owner,” ujar Raka.
Tersebar di berbagai daerah di Indonesia, Supermoto Owner Group memiliki lebih dari 33 Chapter yang berasal dari daerah Jawa, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Anggotanya pun kini mencapai 2.000 personel.
“Kita terbuka untuk umum. Bisa gabung pas kita ada acara atau bisa main ke basecamp, karena banyak juga sekarang ini komunitas motor baru nggak selektif dalam menerima anggota sehingga sering menimbulkan masalah,” imbuhnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





