SEMARANG, beritajateng.tv – Menyambut Hari Sumpah Pemuda, Pasar Senggol Grand Candi Semarang menghadirkan talent-talent muda dari Dimas Music School pada Minggu, 27 October 2024.
Sebanyak 26 musisi cilik siswa dari Dimas Music School (DMS) unjuk kebolehan di salah satu hotel berbintang lima, Grand Candi Semarang.
Dengan semangat, mereka unjuk kebolehan di hadapan tamu-tamu yang hadir. Seperti, Kiandra salah satu murid DMS yang kini berusia 6 tahun.
Kiandra telah belajar di DMS sejak menginjak usia 4 tahun. Putra Wina Etayani Ariatiwi dengan berani maju ke atas panggung dan memainkan keybord dengan terampilnya.
Ia memainkan lagu anak gembala dan twinkle-twinkle. “Belajar lagu ini satu bulan. Cita-cita pingin jadi pianis,” imbuh Kiandra.
Sementara itu, Dimas Nugroho Sabputro, pendiri DMS mengatakan, Dimas Music School memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berani pentas menunjukkan bakatnya dalam bermusik.
Spesialisasi Drumb dan Biola
“DMS sendiri memang lebih ke semua alat music. Untuk spesialisasi itu saya lebih ke Biola dan Drumb,” ungkapnya.
Menurut dia, untuk spesialisasi dua alat tersebut, drumb dan biola, ia menguasai alat musik itu hingga grade 7-8. “Khusus keyboard dan gitar, saya bisa sampai grade 3. Kalau anaknya sudah pinter, saya kasih rekomendasi dan di latih oleh teman dan jadi tutor mereka,” kata dia.
Dia mengaku jika saat ini telah memiliki 50-60 murid, dengan area seluruh Kota Semarang.
“Memang DMS lebih cenderung ke privat, jadi kita yang datang ke rumah murid. Kalau murid gak ada yang anter, saya yang akan kesana. Areanya seluruh kota Semarang, tapi domisili sendiri di Ungaran,” sebutnya.
DMS sendiri setiap dua bulan sekali selalu melakukan evaluasi terhadap siswa siswinya, dengan menggelar perform dan pementasan.
“Mereka wajib untuk berani pentas. Entah itu di sini, di mall atau di tempat wisata. Bulan depan kita akan pentas di Dusun Semilir juga, setiap dua bulan sekali harus ada event untuk mementaskan apa yang sudah di pelajari, selama dua bulan itu materinya apa, mereka harus mementaskan, berani tampil,” Jelasnya.
Ia mengajak para orang tua untuk berperan serta dalam menggali potensi putra putrinya. Menurut dia, musik tidak butuh bakat, namun yang penting kemauan, kerja keras dan tekun.
“Bakat itu nomor seratus. Kalau kita bilang musik harus butuh bakat, justru itu cenderung kita menyalahkan sang Pencipta. Jadi semua orang bisa belajar musik, semua anak umur berapapun semua bisa belajar musik. Seperti Filosofi Jawa, tresno jalaran soko kulino, itu kunci untuk semua bidang, gak harus untuk musik saja, semua bisa di latih,” Paparnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





