SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah (Jateng) mencatat sebanyak 27.953 pohon terbakar di kawasan hutan negara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga 25 Oktober 2026.
Kepala Bidang Penaatan Lingkungan Hidup dan Perlindungan Hutan DLHK Jawa Tengah, Soegiharto, mengatakan, total luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai sekitar 3.438,64 hektare.
Kebakaran tersebut meliputi kawasan hutan negara seluas 1.763,64 hektare dan lahan masyarakat seluas 1.675 hektare. Adapun perkiraan kerugiaannya mencapai Rp3,34 miliar.
“Kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan ini perkiraaannya mencapai Rp3,34 miliar. Terdiri dari Rp2,50 miliar pada lahan masyarakat dan sekitar Rp841,97 juta di kawasan hutan negara,” katanya dalam keterangan tertulis yang beritajateng.tv terima Rabu, 28 Oktober 2026 sore.
BACA JUGA: Sumanto Dorong Pembangunan Infrastruktur Pemadaman Antisipasi Kebakaran Gunung Lawu
Dalam laporan tersebut, DLHK Jateng juga mencatat total 1.297 kejadian karhutla selama periode Januari hingga 25 Oktober 2026. Rinciannya, sebanyak 803 kejadian berlangsung di kawasan hutan negara dan 494 kejadian terjadi di lahan masyarakat.
Pemicu Kebakaran Oleh Kelalaian Manusia
DLHK Jateng menduga sebagian besar kebakaran hutan tersebut dengan pemicu kelalaian manusia. Baik akibat pembakaran yang sengaja maupun tidak.
Soegiharto mengatakan, aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran antara lain pembakaran saat membersihkan lahan, membakar sampah, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan penggunaan api.
BACA JUGA: Tragedi Atlet Selam di Porprov Jateng, Tim Medis hingga Prosedur Darurat Perlu Dievaluasi
Dalam laporan yang sama, Soegiharto menyebut sejumlah jenis tutupan lahan yang terdampak kebakaran.
“Tutupan hutan dan lahan yang terbakar di antaranya berupa hutan tanaman jati, area tanaman tebu, semak belukar dan hutan rakyat,” ucap dia.
KPH Surakarta Catat Kejadian Terbanyak
Adapun kejadian karhutla di kawasan hutan negara paling banyak tercatat di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta, yakni 321 kejadian.
“Khusus di kawasan hutan negara, kejadian terbanyak di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta 321 kali. KPH Randublatung 97 kali, KPH Kebonharjo 66 kali,” kata Soegiharto.
Selain itu, kata dia, ada 53 kejadian di KPH Semarang dan 51 kejadian di KPH Pemalang. Kebakaran juga terjadi di wilayah KPH Gundih, Pati, Mantingan, Cepu, Balapulang, Banyumas Timur, dan Blora.
Untuk mengendalikan karhutla, penanganan dilakukan dengan melibatkan berbagai instansi dan unsur masyarakat.
“Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan terus berjalan dengan melibatkan para pemangku kepentingan,” ucap Soegiharto.
BACA JUGA: Cerita Meidina Riani Putri, Karateka asal Kabupaten Semarang Peraih Medali Emas Porprov Jateng 2026
Pihak yang terlibat antara lain BPBD Provinsi Jawa Tengah, DLHK Jateng, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Perum Perhutani, TNI, serta Polri.
Penanganan juga melibatkan cabang dinas kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, pengelola Taman Nasional Merapi, Taman Nasional Merbabu, dan Taman Nasional Karimunjawa.
Selain itu, BPBD kabupaten/kota, petugas pemadam kebakaran, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok tani hutan, serta kelompok masyarakat lainnya turut dilibatkan dalam upaya pengendalian kebakaran. (*)
Editor: Diaz A Abidin





