SEMARANG, beritajateng.tv — Puncak musim hujan tahun ini memicu berbagai bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang. Salah satu dampak terparah adalah bencana tanah longsor yang merusak infrastruktur jalan di berbagai kecamatan.
Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menyebutkan sejak akhir 2025 hingga awal Maret 2026 tercatat sedikitnya 30 titik longsor di wilayahnya.
“Infrastruktur yang paling banyak terdampak adalah jalan penghubung, baik antarwilayah maupun antardaerah,” ungkapnya di Ungaran, Rabu, 4 Maret 2026.
Dari total 30 titik tersebut, sebagian sudah di tangani menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) melalui BPBD Kabupaten Semarang dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Semarang. Namun, beberapa titik lainnya masih memerlukan kajian teknis lanjutan karena solusi penanganannya mengharuskan pemindahan jalur jalan.
BACA JUGA: BPBD: Pergerakan Tanah di Desa Kalongan Masih Aktif, 22 KK Masuk Zona Rawan Longsor
Salah satu contohnya adalah jalan penghubung Desa Nyatnyono–Desa Lerep di wilayah Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat. Jalan tersebut terputus akibat longsor dengan tinggi tebing mencapai sekitar 50 meter dan panjang sekitar 50 meter, serta kondisi sisi tebing yang curam dan rawan.
“Kekhawatiran kami, jika jalur tidak dipindahkan, setelah diperbaiki pun berpotensi longsor kembali,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada jalan kabupaten di wilayah Desa Plumutan, Kecamatan Bancak. Saat ini, pemerintah daerah tengah menyiapkan rencana pembelian lahan di sekitar lokasi untuk memindahkan jalur jalan ke area yang lebih aman.
Hal yang sama direncanakan di Desa Kalikurmo, Kecamatan Bringin. Jalan di wilayah tersebut rusak parah akibat karakteristik tanah yang labil.
“Seperti di Bancak, kami juga merencanakan pembelian lahan untuk memindahkan jalan dari lokasi yang rawan,” tegas bupati.
Selain itu, longsor yang terjadi sejak 2022 di wilayah Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, hingga kini masih berlangsung dan kondisinya semakin meluas. Longsor akibat fenomena pergerakan tanah tersebut bahkan kian mendekati kawasan permukiman warga.
BACA JUGA: Instruksi Gubernur, Dinas Pusdataru Jateng Bakal Kebut Penanganan Longsor di Perumahan Delta Asri
Kajian teknis telah pihak Undip serta Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah lakukan. Berdasarkan pemantauan terakhir, jarak antara bibir longsor dengan rumah warga kini tinggal sekitar 15 hingga 20 meter.
“Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius karena sudah mengancam permukiman warga,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila
Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.
Gabung Channel WhatsApp





