Jateng

31 Ribu Keluarga di Jateng Terima Bantuan Air Bersih, BPBD Ungkap Tiga Daerah Kekeringan Terparah

×

31 Ribu Keluarga di Jateng Terima Bantuan Air Bersih, BPBD Ungkap Tiga Daerah Kekeringan Terparah

Sebarkan artikel ini
BPBD Jateng Air | Kekeringan Jawa Tengah | BMKG Kekeringan | ilustrasi kekeringan | Bencana Kekeringan
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Pexels/Pixabay)

Meski mulanya ada 20 kabupaten/kota yang menerima bantuan, kini hanya tersisa dua kabupaten yang masih menerima dropping air bersih di Jawa Tengah, yakni Klaten dan Purworejo. Adapun tiga daerah dengan catatan dropping air bersih paling tinggi yakni Klaten, Brebes, dan Purworejo.

“Masih ada dua kabupaten yang menerima dropping, Klaten dan Purworejo. Nah, dari 20 kabupaten/kota, yang signifikan atau lumayan banyak itu Klaten, Brebes, Purworejo. Klaten sampai saat ini masih ada dropping, tapi yang lainnya sudah berapa minggu ini tidak ada informasi dropping,” imbuhnya.

Ia menyebut, saat ini dropping air bersih di Klaten tidak dilakukan rutin setiap minggu, melainkan berbasis permintaan dari masyarakat.

“Sifatnya memang pada saat ada permintaan, pastinya [dampak kemarau] enggak begitu berat, karena berdasarkan pada permintaan-permintaan yang tidak rutin gitu. Jadi dampak [kemarau] kemarin sebenarnya enggak terlalu parah di Jawa Tengah,” jelas Chomsul.

BACA JUGA: Forum TJSLP Semarang Keroyokan Atasi Problem Air Bersih di Kecamatan Bancak: Bakal Bikin Sumur Bor

Pihaknya pun membeberkan alasan mengapa Klaten selalu menjadi daerah yang rutin menerima dropping air bersih tiap tahunnya. Bahkan, Klaten, Brebes, dan Purworejo menjadi daerah yang menerima dropping air selama tiga tahun berturut-turut.

“Tiga kabupaten itu hampir 3 tahun berturut-turut selalu melakukan dropping air bersih di beberapa desanya ya, terutama Klaten yang di daerah tinggi menuju Merapi, kan memang di situ tidak ada sumber air,” ujarnya.

Daerah pegunungan tersebut, kata Chomsul, sangat bergantung pada aliran sungai saat musim hujan. Ketika curah hujan berkurang, sumber air hilang dan masyarakat terpaksa menunggu bantuan air bersih.

“Saat bukan musim kemarau, masyarakat itu banyak mengandalkan [air] dari aliran-aliran hulu sungai. Nah, pada saat musim kemarau, curah hujan berkurang, sumber air enggak ada, akhirnya dipenuhi dengan dropping-dropping seperti itu,” ucapnya.

Belum semua wilayah Jateng dapat curah hujan yang cukup