Selain data temuan kasus pneumonia balita, data Dinkes Jateng tahun 2026 juga mencatat adanya 551 kematian akibat pneumonia pada berbagai kelompok usia.
Data tersebut mencatat kematian akibat pneumonia meliputi balita, anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Di Kabupaten Karanganyar, menjadi daerah dengan jumlah kematian pneumonia tertinggi, yakni 166 kasus. Kemudian Pati mencatat 88 kematian, dan Banyumas 64 kematian.
Heri menjelaskan pneumonia yang terlambat mendapat penanganan dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius. Pada anak-anak, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kesulitan bernapas dan berujung fatal.
“Kalau pada anak-anak yang alami pneumonia, maka napasnya susah gitu ya. Akhirnya bisa meninggal,” katanya.
Meski demikian, Heri mengatakan, pneumonia masih dapat ditangani apabila bisa deteksi dini dan mendapat penanganan segera.
Pakai Masker saat Keluar Rumah
Lebih lanjut, Heri mengatakan, masyarakat perlu mengenakan masker di tengah kondisi udara yang berdebu selama musim kemarau, Hal ini sebagai bentuk pencegahan.
Selain masker, masyarakat agar bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Termasuk mencuci tangan secara rutin.
Orang tua juga perlu menjaga anak agar tidak terlalu sering terpapar debu maupun asap. Balita harus menjadi perhatian utama karena termasuk kelompok yang paling rentan.
Heri juga meminta masyarakat menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Hal ini untuk mencegah penularan infeksi saluran pernapasan. (*)
Editor: Diaz A Abidin





