SEMARANG, beritajateng.tv – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti buka suara usai kasus perundungan (bullying) yang menimpa Muhammad Hasbi Al Aqib (7), siswa SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang hingga meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Dia bilang, perundungan siswa sekolah di Kabupaten Pemalang maupun di daerah lain menunjukkan peraturan serta budaya di sekolah yang aman dan nyaman belum berjalan.
“Semoga peristiwa yang terjadi di Kabupaten Pemalang dan daerah lainnya tidak terulang di masa- masa yang akan datang,” kata Abdul Mu’ti usai membuka acara Festival Tunas Bahasa Ibu 2026, di Balai Bahasa Pemprov Jawa Tengah, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat sore, 9 Oktober 2026.
Secara aturan, kata dia, kementerian sudah menerapkan berbagai upaya. Tentunya agar kebijakan kementerian, membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat ditegakkan bagi semua, tanpa terkecuali.
“Tetapi dalam realitasnya peraturan tersebut belum berjalan dengan sebaik- baiknya. Sehingga kami akan berusaha untuk lebih meningkatkan lagi pelaksanaan dan keterlaksanaan budaya di sekolah yang aman dan nyaman di sekolah,” kata dia.
Abdul Mu’ti mengatakan, sudah ada tim Inspektorat Jenderal (Irjen) dari kementeriannya yang datang menemui orang tua korban di Pemalang.
“Kami sudah berusaha agar persoalan diselesaikan dengan sebaik- baiknya,” katanya.
Pembinaan Siswa
Kementerian, kata dia, juga berkomitmen dan mengajak semua pihak untuk lebih meningkatkan pembinaan kepada siswa. Baik di lingkungan sekolah, di rumah, maupun saat menggunakan media sosial.
Dia mengklaim, banyak kasus kekerasan itu terinspirasi oleh apa yang mereka tonton dari media, Terutama dari internet dan media sosial.
“Anak- anak tidak tahu membedakan antara dunia nyata dengan dunia maya. Sehingga kadang- kadang apa yang mereka lihat itu dilakukan dalam kehidupan nyata,” klaimnya.
Abdul Mu’ti, mengatakan, semua pihak agar bersama- sama berperan melakukan upaya pembinaan. Pembinaan di sekolah tidak cukup tanpa dukungan pembinaan orang tua, dan lingkungan masyarakat.





