Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah penyelenggaraan rangkaian kegiatan menjelang lomba di kawasan Kota Lama Semarang.
Kawasan bersejarah yang menjadi ikon kota itu menjadi ruang interaksi para pelari dengan kekayaan budaya dan kuliner lokal sebelum mengikuti perlombaan keesokan harinya.
“Kami ingin para peserta tidak hanya datang untuk berlari lalu pulang. Mereka harus bisa menikmati suasana Kota Lama, mencicipi kuliner khas Semarang, dan merasakan keramahan warga Semarang. Jadi yang dibawa pulang bukan hanya medali, tetapi juga pengalaman,” tambahnya.
Harapan agar Semarang menghadirkan penyelenggaraan terbaik juga datang dari sesama kepala daerah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menilai kualitas penyelenggaraan harus terus meningkat dari satu kota ke kota berikutnya hingga mencapai puncaknya di Semarang.
“Setelah Surabaya, Tangerang harus lebih baik. Semarang yang terakhir harus jadi yang terbaik,” ujar Farhan.
Optimisme serupa para pelari sampaikan. Bintoro Setiawan, peserta asal Kota Semarang yang mengikuti Suroboyo 10K. Berharap seri penutup di kotanya mampu menjadi perhelatan terbesar dan paling berkesan.
“Karena Semarang yang paling terakhir, yang paling ultimate, berarti harus yang paling baik, paling ramai, dan paling menyenangkan,” katanya.
The Ultimate 10K Series 2026 menargetkan partisipasi sekitar 13.500 pelari di empat kota. Khusus Semarang 10K, target peserta mencapai 3.500 pelari, angka tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraannya.
Dengan pengalaman yang matang, dukungan masyarakat yang kuat, serta berbagai destinasi unggulan yang di miliki. Kota Semarang bersiap menegaskan diri sebagai kota olahraga, kota wisata, dan kota penyelenggara event nasional yang mampu menghadirkan pengalaman kelas terbaik bagi setiap peserta. (*)
Editor: Elly Amaliyah





