Jateng

Agustina Tak Ingin Toleransi Sekadar Slogan, Beri Insentif 37 Petugas Vihara dan 6 Guru Sekolah Minggu Buddha

×

Agustina Tak Ingin Toleransi Sekadar Slogan, Beri Insentif 37 Petugas Vihara dan 6 Guru Sekolah Minggu Buddha

Sebarkan artikel ini
Agustina Tak Ingin Toleransi Sekadar Slogan, Beri Insentif 37 Petugas Vihara dan 6 Guru Sekolah Minggu Buddha
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. (Ellya/beritajateng.tv)

Sangha Theravada Indonesia berdiri di Kota Semarang pada 23 Oktober 1976. Lima bhikkhu kala itu berkumpul di Vihara Maha Dhammaloka, yang sekarang dikenal sebagai Vihara Tanah Putih, untuk mendeklarasikan berdirinya organisasi tersebut.

Lima puluh tahun kemudian, Sangha Theravada Indonesia berkembang dan memberikan pembinaan kepada umat Buddha di berbagai daerah.

Agustina mengaku bangga karena Semarang menjadi bagian penting dari perjalanan organisasi tersebut.

“Sebagai warga Kota Semarang, kami merasa terhormat karena Kota Semarang menjadi tempat lahirnya sebuah organisasi yang hebat,” katanya.

Ia menilai perjalanan setengah abad Sangha Theravada Indonesia menunjukkan pentingnya persatuan, ketekunan, dan pengabdian dalam membangun kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut juga tercermin dalam motto Sukha Sanghassa Samaggi yang bermakna persatuan Sangha adalah sumber kebahagiaan.

Agustina menilai nilai persatuan itu relevan dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan sosial berbeda.

“Kota hanya bisa maju kalau warganya bahagia. Kebahagiaan itu dapat dicapai jika kita bersatu, saling menghormati, dan saling membantu,” ungkapnya.

Vihara Tanah Putih Jadi Contoh Praktik Moderasi Beragama

Agustina juga menyoroti kontribusi komunitas keagamaan dalam menjaga toleransi di Kota Semarang. Salah satu contohnya adalah Vihara Tanah Putih yang meraih juara pertama kategori rumah ibadah dalam lomba inovasi moderasi beragama di Jombang pada 2023.

Menurutnya, penghargaan tersebut menunjukkan bahwa rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat menjalankan ritual keagamaan. Rumah ibadah juga dapat berperan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan memperkuat hubungan antarumat beragama.

Agustina turut menyampaikan capaian Kota Semarang dalam menjaga kerukunan. Ia menyebut Semarang tahun ini memperoleh penghargaan sebagai kota harmoni pertama serta menjadi kota terbesar sebagai kota toleransi di Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan menjaga kerukunan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

“Kerukunan kota tidak bisa dijaga sendirian. Kami membutuhkan para tokoh agama, dan Sangha Theravada Indonesia adalah salah satu mitra penting kami,” tegasnya.