Jateng

Anak-anak Semarang Berebut Piala Wali Kota, Kolintang Jadi Bukti Warisan Budaya Tetap Hidup

×

Anak-anak Semarang Berebut Piala Wali Kota, Kolintang Jadi Bukti Warisan Budaya Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
Anak-anak Semarang Berebut Piala Wali Kota, Kolintang Jadi Bukti Warisan Budaya Tetap Hidup
Perebutan Piala Wali Kota Semarang Kolintang warisan budaya. (Doc. Pemkot Semarang)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musik tradisional kolintang mendapat panggung di pusat perbelanjaan. Sejumlah anak menunjukkan kemampuan memainkan alat musik asal Minahasa tersebut dalam Music Kolintang Competition Piala Wali Kota Semarang 2026 di Atrium Mall Tentrem Semarang, Minggu (8/11/2026).

Alunan kolintang yang menggema di tengah mal menghadirkan suasana berbeda. Anak-anak tampil memainkan musik tradisional di hadapan pengunjung sekaligus bersaing menunjukkan hasil latihan mereka.

Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang memperebutkan Piala Wali Kota. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan musik kolintang kepada generasi muda agar tidak kehilangan peminat di tengah perkembangan hiburan modern.

BACA JUGA: BOP PKK RT/RW Semarang: Baru 88 Kelurahan Ajukan Dana Operasional, Tenggat 15 Desember 2026 

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi tersebut. Menurutnya, anak-anak yang selama ini belajar dan berlatih membutuhkan ruang untuk menampilkan kemampuan mereka di hadapan publik.

“Bagi seniman, hal yang paling membanggakan adalah ketika bisa mengekspresikan diri dan terlihat orang lain. Ini menjadi bentuk apresiasi bagi anak-anak yang selama ini belajar kolintang,” ujarnya.

Agustina menilai panggung kompetisi memiliki peran penting dalam proses pembinaan. Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sekaligus mengukur hasil latihan mereka.

Pemerintah Kota Semarang, lanjutnya, berkomitmen memberikan ruang bagi musik kolintang agar semakin masyarakat kenal. Kompetisi serupa bahkan telah digelar pada April 2026.

Kembali terselenggaranya kegiatan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan dalam pembinaan pegiat kolintang di Kota Semarang. Agustina berharap musik tradisional ini semakin sering hadir dalam berbagai agenda daerah.

Pengakuan UNESCO Harus Ada Regenerasi

Agustina juga mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO terhadap kolintang sebagai warisan budaya tak benda harus di ikuti langkah nyata untuk menjaga kelestariannya.

Menurutnya, pengakuan internasional bukanlah tujuan akhir. Masyarakat harus membuktikan bahwa kolintang tetap di mainkan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Pengakuan sebagai warisan budaya tak benda itu tidak mudah diraih. Karena itu, kita perlu memberikan bukti bahwa kolintang ini hidup di masyarakat dan menjadi bagian dari ritme kegiatan sehari-hari,” katanya.

Keterlibatan anak-anak dalam kompetisi tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlanjutan musik kolintang. Regenerasi diperlukan agar kesenian tradisional tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dimainkan oleh generasi berikutnya.

Agustina turut memberikan apresiasi kepada para pegiat kolintang yang konsisten mengembangkan kesenian tersebut di Semarang. Ia berharap semakin banyak komunitas dan generasi muda yang tertarik mempelajari musik tradisional ini.

Hadir dalam kegiatan sejumlah tokoh nasional, di antaranya mantan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Bupeni Iryana Marsetio, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, Ketua DPC Pinkan Kota Semarang Martin, serta Ketua Yayasan Sam Poo Kong.

Hadir pula jajaran Pemerintah Kota Semarang, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan sejumlah pegiat seni budaya. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp