SEMARANG, beritajateng.tv – Angka pernikahan di Indonesia menunjukkan tren penurunan, terutama di kalangan perempuan yang memiliki keinginan tidak menikah. Psikolog Probowatie menilai fenomena ini dipicu oleh perubahan pola pikir dan gaya hidup perempuan modern yang semakin mandiri, baik secara finansial maupun emosional.
“Perempuan sekarang banyak yang merdeka, mereka cenderung mandiri. Mereka tidak merasa butuh pasangan untuk bertahan hidup, hanya butuh teman ngobrol. Dalam perkawinan ada ikatan dan tanggung jawab, sedangkan hidup sendiri terasa lebih bebas,” ujar Probowatie saat beritajateng.tv hubungi pada Jumat, 15 Agustus 2025.
Menurutnya, pergeseran nilai ini membuat pernikahan tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan utama. Faktor kebebasan waktu, karier yang stabil, hingga kemudahan akses pergaulan menjadi alasan banyak perempuan menunda bahkan memilih untuk tidak menikah sama sekali.
“Kebutuhan emosional bisa terpenuhi lewat obrolan atau persahabatan, tanpa harus terikat secara formal. Kebutuhan seksual pun, bagi sebagian orang, bisa mereka dapat di luar pernikahan,” lanjutnya.
BACA JUGA: Angka Pernikahan di Indonesia Menurun, BKKBN Jateng: Bisa Ganggu Keseimbangan Demografi
Probowatie mengungkap hasil penelitiannya terhadap 750 responden perempuan yang menikah di usia 24–25 tahun. Saat berusia 32–33 tahun, sebagian besar mengaku menyesal menikah terlalu muda dan merasa pernikahan tidak otomatis membawa kebahagiaan.
“Banyak yang baru merasa siap menikah di usia 30–35 tahun, saat karier sudah mapan,” jelasnya.
Selain itu, tren childfree atau memilih tidak punya anak juga semakin marak. Alasannya bervariasi, mulai dari fokus pada karier, kekhawatiran soal biaya hidup, hingga trauma atau ketakutan terhadap risiko pelecehan anak akibat kurangnya pengawasan karena kedua orang tua bekerja.
Namun, di sisi lain, Probowatie menyoroti fenomena yang berlawanan di kalangan remaja. Masih marak pernikahan dini karena kehamilan di luar nikah, terutama di usia SMP dan SMA.
“Banyak yang mengajukan dispensasi nikah karena pergaulan bebas. Secara psikologis, ini tidak sehat karena mereka belum matang secara mental dan emosional,” tegasnya.
Bagi Probowatie, pilihan untuk menikah atau tidak adalah hak pribadi yang disertai risiko masing-masing. “Semua pilihan ada konsekuensinya. Yang penting, setiap orang harus memahami risiko dan siap menjalaninya,” pungkasnya.
Dengan perubahan pola pikir generasi sekarang, angka pernikahan di masa depan kemungkinan akan terus menurun, sementara definisi kebahagiaan dalam hubungan akan semakin beragam.
BACA JUGA: Luxury Wedding Expo Renaissance Romance 2025 Dongkrak Industri Pernikahan di Semarang: Konsep Megah-Modern
Sebelumnya, BKKBN Jawa Tengah menegaskan bahwa menjaga angka kelahiran seimbang tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk semata, tetapi juga kelestarian ekosistem sosial dan lingkungan.
Hal itu diungkapkan oleh, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Eka Sulistia belum lama ini. Dengan jumlah penduduk yang sesuai daya dukung lingkungan, negara dapat memastikan kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.
“Supaya penuhi tumbuh seimbang itu penting untuk menjaga lingkungan dan ekosistem. Semua saling berkaitan satu sama lain,” tegas Eka. (*)
Editor: Farah Nazila





