“Boraks sama formalin itu biasanya dipakai supaya renyah, tidak cepat melempem. Tapi kalau melebihi ambang batas tentu berbahaya,” jelasnya.
Hakam mengingatkan konsumsi boraks dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. “Kalau boraks itu pastinya berisiko kanker kalau konsumsi lama-lama,” ujarnya.
BACA JUGA: Unik! Kuntilanak dan Genderuwo Bagi-bagi 400 Takjil di Semarang
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengenali ciri makanan yang patut mereka waspadai. Misalnya makanan yang terlalu kenyal, tahan basi, atau tidak berkerubung lalat.
Selain itu, makanan yang tampak terlalu mengkilap seperti mi kuning juga patut dicurigai karena berpotensi mengandung formalin.
Lebih jauh, Hakam menegaskan pengawasan pangan selama Ramadan berjalan secara kolaboratif antara BBPOM, Dinas Kesehatan, dan Dinas Ketahanan Pangan agar jangkauannya lebih luas.
“Kami bertiga berkolaborasi supaya makanan yang masyarakat konsumsi itu sehat. Karena pedagangnya juga sangat banyak,” katanya.
Ia menambahkan, pengawasan akan terus berlangsung di berbagai titik selama Ramadan guna memastikan makanan yang beredar aman masyarakat konsumsi. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





