SEMARANG, beritajateng.tv – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang melakukan pengawasan serta uji sampel takjil di Muladi Dome Undip, Kota Semarang, Selasa, 3 Maret 2026.
Dalam kegiatan tersebut, BBPOM Semarang mengambil 35 sampel makanan, Dinas Kesehatan Kota Semarang 24 sampel, dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang 11 sampel. Dari total 70 sampel yang diperiksa, ditemukan satu sampel mengandung boraks.
Kepala BBPOM Semarang, Rustyawati, menyebut seluruh sampel yang BBPOM uji aman dari kandungan bahan berbahaya.
“Dan semuanya alhamdulillah negatif ya, jadi tidak ada yang mengandung bahan berbahaya. Jadi itu harus kita syukuri nol. Semuanya aman,” ujar Rustyawati.
BACA JUGA: Wayang Potehi Bagi Takjil di Semarang, Lontong Cap Go Meh hingga Onde-Onde Jadi Simbol Toleransi
Ia menambahkan, tren temuan bahan berbahaya pada pangan siap saji di Jawa Tengah juga terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya punya data 2023 itu lima persen. Terus turun empat persen 2024, tahun 2025 itu nol. Ini boleh katakan kita nol,” jelasnya.
Rustyawati mengatakan pengawasan pangan selama Ramadan akan terus berlanjut. Selain memeriksa makanan siap saji seperti takjil, pihaknya juga melakukan pengawasan di toko dan swalayan.
“Kami nanti ada press conference juga tanggal 12 Maret di Kabupaten Semarang,” tambahnya.
Satu Sampel Takjil Kerupuk Gendar yang Dinas Kesehatan Kota Semarang Uji Mengandung Boraks
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menyebut dari 24 sampel yang pihaknya periksa, terdapat satu makanan mengandung boraks.
“Alhamdulillah 35 sampel dari Balai POM aman. Kami dari Dinas Kesehatan memeriksa 24 sampel, ada satu temuan yang mengandung boraks,” kata Hakam.
Ia menjelaskan bahan berbahaya tersebut ditemukan pada makanan jenis kerupuk gendar. Menurutnya, sebagian pedagang menggunakan boraks untuk membuat tekstur makanan lebih renyah dan tidak cepat melempem.





