“Dari dulu karena sering lihat crown Barbie gitu-gitu kan. Terus habis itu kok bagus ya. Akhirnya itu yang membuat aku masih pengen sampai besar jadi Puteri Indonesia,” tuturnya.
Namun, berada di panggung Puteri Indonesia membuat Lani menyadari bahwa menjadi seorang putri bukan hanya soal penampilan. Persiapan membutuhkan proses panjang, termasuk kemampuan berbicara di depan publik.
Lani yang merupakan lulusan S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, mengungkapkan bahwa public speaking bukan kemampuan yang bisa ԁikuasai hanya dalam waktu satu atau dua tahun. Bahkan hingga sekarang ia masih terus belajar.
“Memang sih kan enggak yang setahun dua tahun belajar kayak gitu. Sampai sekarang pun aku masih belajar untuk public speaking karena memang kita tiap hari juga ketemu orang,” ujarnya.
Pengalaman sebagai model sejak 2015 menjadi salah satu bekalnya. Berinteraksi dengan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari proses belajar tersebut.
Menjadi bagian dari Puteri Indonesia 2025 memberikan pengalaman emosional bagi perempuan yang sempat mengenyam pendidikan di SMAN 1 Gedangan itu.
Ada rasa senang dan bangga. Namun, di balik panggung besar tersebut, ada pula kesedihan yang harus ia rasakan. Salah satu momen yang paling berat baginya adalah ketika tidak ada sosok sang ibu yang biasanya selalu mendampinginya.
BACA JUGA: Efek Domino Kasus Dwi Sasetyaningtyas, Irawati Puteri Penerima LPDP
“Rasanya campur aduk, sih. Yang pertama senang, yang kedua bangga, yang ketiga nangis juga,” katanya.
Perempuan berusia 28 tahun itu mengaku sosok ibunya selama ini terbiasa menemani berbagai kegiatannya. Karena itu, ketika berada di panggung Puteri Indonesia dan tidak melihat sang ibu di sampingnya, ada perasaan kehilangan yang cukup kuat.
“Ketika di panggung Puteri Indonesia itu enggak ada sosok wanita ibu di sampingku. Itu salah satu hal yang membuat aku berat di panggung karena enggak ada mami. Biasanya mami itu nemenin ke mana-mana,” ungkapnya.





