Gaya Hidup

Berawal Kagum Mahkota Barbie, Lailani Fitrah Wujudkan Mimpi di Panggung Puteri Indonesia

×

Berawal Kagum Mahkota Barbie, Lailani Fitrah Wujudkan Mimpi di Panggung Puteri Indonesia

Sebarkan artikel ini
Puteri Indonesia
Lailani Fitrah, Puteri Indonesia DKI Jakarta 6 2025, yang kini memulai bisnis parfum Sajak Harum. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Panggung Puteri Indonesia menjadi salah satu perjalanan penting dalam karier Lailani Fitrah Ramadhani. Berawal dari dunia modeling sejak duduk di bangku SMP, perempuan asal Sidoarjo itu kemudian mendapat kesempatan mewakili DKI Jakarta dalam ajang Puteri Indonesia 2025.

Wanita yang kerap ԁisapa Lani itu mengawali kariernya sebagai seorang model di Surabaya. Kala itu ia masih duduk di kelas IX SMPN 3 Sidoarjo.

Dari Surabaya, perjalanan kariernya kemudian membawanya ke Jakarta. Lani memutuskan untuk tinggal di Ibu Kota dan terus mengembangkan kariernya di dunia modeling.

Sebelumnya, Lani sebenarnya sudah pernah mencoba mengikuti ajang Puteri Indonesia Jawa Timur. Namun, setelah cukup lama tinggal di Jakarta, ia mendapat kesempatan untuk mewakili DKI Jakarta.

“Aku tuh dari model Surabaya. Terus habis itu aku pergi ke Jakarta. Nah, aku stay di sana. Terus lambat laun aku coba Puteri Indonesia lagi karena sebenarnya dulu udah pernah ikut Puteri Indonesia tapi yang Jawa Timur,” ujar Lailani saat berbincang dengan beritajateng.tv.

Dari kesempatan itulah ia kemudian mewakili DKI Jakarta sebagai finalis Puteri Indonesia DKI Jakarta 6 2025.

Hasil akhir dalam sebuah kompetisi bukan satu-satunya hal yang penting. Meski belum bisa meraih crown atau mahkota, bagi Lani, bisa berdiri di panggung besar Puteri Indonesia sudah menjadi pencapaian yang membuatnya bangga.

“Sejauh ini aku masih bangga dengan ԁiriku karena sampai di titik panggung besar Puteri Indonesia itu aku udah merasa bersyukur. Jadi, aku bagian dari mereka itu aku udah merasa happy banget,” ungkapnya.

BACA JUGA: Harumkan Nama Jawa Tengah, Adelia Elka Safiya Sabet Gelar Winner Puteri Pendidikan Anak Nusantara 2026

Keinginan Lani mengikuti ajang kecantikan bukan muncul secara tiba-tiba. Sejak kecil, ia sudah tertarik melihat sosok perempuan yang tampil dengan mahkota dan busana layaknya seorang putri. Ketertarikan itu pun tumbuh menjadi sebuah mimpi.

“Dari dulu karena sering lihat crown Barbie gitu-gitu kan. Terus habis itu kok bagus ya. Akhirnya itu yang membuat aku masih pengen sampai besar jadi Puteri Indonesia,” tuturnya.

Namun, berada di panggung Puteri Indonesia membuat Lani menyadari bahwa menjadi seorang putri bukan hanya soal penampilan. Persiapan membutuhkan proses panjang, termasuk kemampuan berbicara di depan publik.

Lani yang merupakan lulusan S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya, mengungkapkan bahwa public speaking bukan kemampuan yang bisa ԁikuasai hanya dalam waktu satu atau dua tahun. Bahkan hingga sekarang ia masih terus belajar.

“Memang sih kan enggak yang setahun dua tahun belajar kayak gitu. Sampai sekarang pun aku masih belajar untuk public speaking karena memang kita tiap hari juga ketemu orang,” ujarnya.

Pengalaman sebagai model sejak 2015 menjadi salah satu bekalnya. Berinteraksi dengan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian dari proses belajar tersebut.

Menjadi bagian dari Puteri Indonesia 2025 memberikan pengalaman emosional bagi perempuan yang sempat mengenyam pendidikan di SMAN 1 Gedangan itu.

Ada rasa senang dan bangga. Namun, di balik panggung besar tersebut, ada pula kesedihan yang harus ia rasakan. Salah satu momen yang paling berat baginya adalah ketika tidak ada sosok sang ibu yang biasanya selalu mendampinginya.

BACA JUGA: Efek Domino Kasus Dwi Sasetyaningtyas, Irawati Puteri Penerima LPDP

“Rasanya campur aduk, sih. Yang pertama senang, yang kedua bangga, yang ketiga nangis juga,” katanya.

Perempuan berusia 28 tahun itu mengaku sosok ibunya selama ini terbiasa menemani berbagai kegiatannya. Karena itu, ketika berada di panggung Puteri Indonesia dan tidak melihat sang ibu di sampingnya, ada perasaan kehilangan yang cukup kuat.

“Ketika di panggung Puteri Indonesia itu enggak ada sosok wanita ibu di sampingku. Itu salah satu hal yang membuat aku berat di panggung karena enggak ada mami. Biasanya mami itu nemenin ke mana-mana,” ungkapnya.

Selain pengalaman, banyak hal yang Lani dapatkan dari perjalanan di dunia modeling dan Puteri Indonesia, contohnya mendapatkan koneksi dengan banyak orang.

Namun, lebih dari itu, pengalaman tersebut membuatnya memiliki keyakinan bahwa perempuan bisa berkembang dan mengejar mimpi yang lebih tinggi.

“Pengalaman itu enggak bisa kita dapatkan kalau misalnya kita enggak ngejalanin. Dan istilahnya kayak ada title di nama sebagai Puteri Indonesia itu membuat akhirnya hidup dan perjuangan kita itu kayak, kita bisa loh,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan tidak harus membatasi diri pada satu gambaran tentang kesuksesan. “Sebagai wanita kita bisa punya mimpi yang tinggi, sebagai wanita kita bisa berkembang,” katanya.

BACA JUGA: Festival Bunga Bandungan 2026 Sedot Ribuan Pengunjung, DPRD Kabupaten Semarang Dorong Jadi Agenda Nasional

Pandangan itu juga berlaku ketika membicarakan kecantikan perempuan Indonesia. Bagi Lani, kecantikan tidak seharusnya ԁibatasi oleh warna kulit atau standar tertentu.

“Enggak harus putih, enggak harus hitam sih. Karena aku sendiri juga punya kulit sawo matang,” tuturnya.

Menurutnya, perempuan cantik adalah perempuan yang mau merawat dan menghargai dirinya sendiri.

“Kalau dari aku, wanita yang mau merawat dirinya. Kalau kita merawat mulai dari atas sampai bawah, kita bisa menghargai diri kita sehingga ketika kita ketemu orang lain, pasti mereka juga akan menghargai kita,” imbuhnya.

Perawatan diri, lanjutnya, juga tidak hanya berkaitan dengan wajah. Cara berpakaian dan bagaimana seseorang membawa dirinya juga menjadi bagian dari bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Kini, setelah melewati pengalaman di dunia modeling dan Puteri Indonesia, Lani memasuki babak baru. Ia tidak lagi hanya sibuk dengan panggung dan kamera, ia mulai membangun bisnis parfum bernama Sajak Harum. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp