SEMARANG, beritajateng.tv – Berbeda dengan seniman pada umumnya yang memanfaatkan kuas dan cat air, Riska Farasonalia lebih memilih seni kolase. Itulah seni menempelkan berbagai macam bahan ke dalam satu frame untuk menghasilkan karya seni baru.
Kecintaannya pada dunia seni sebenarnya telah muncul sejak tahun 2010 lalu. Saat itu, ia yang masih aktif sebagai jurnalis memilih seni kolase untuk menghilangkan penat di tengah kesibukan bekerja.
“Milih kolase awalnya karena untuk terapi di tengah hiruk pikuk pekerjaan, sering stres, burn out, cemas, anxiety. Dari situ saya nemuin kolase untuk stress release,” ucap Riska kepada beritajateng.tv, beberapa waktu yang lalu.
Dalam berkarya seni kolase, ia hanya membutuhkan barang-barang sederhana bahkan bekas pakai. Seperti kertas, kaim perca, koran atau majalah bekas, gunting, dan lem. Caranya pun cukup mudah.
BACA JUGA: Nasida Ria: Sun Stage, Dokumenter Revolusi 48 Tahun Grup Qosidah Legendaris
Bahan-bahan yang terkumpul selanjutnya diaplikasikan di sebuah bidang dengan metode ‘gunting-potong-tempel’.
“Mungkin banyak yang belum tahu, itu teknik gunting-tempel dari kertas, lalu disusun keping demi keping yang membentuk satu kesatuan keindahan,” tutur Riska yang pernah menjadi jurnalis di berbagai media.
Meski sederhana, karya-karya yang Riska buat bisa menjadi kreasi berbagai bentuk, antara lain: buku, cover album musik, brand tas, hingga majalah.
Selain itu, isu yang disampaikan pun juga memiliki makna mendalam. Misalnya seperti isu sosial, lingkungan, perempuan, hingga luapan emosi personal.
Dalami seni kolase hingga bisa kolaborasi dengan Louis Vuitton dan bikin Komunitas Kolasemauku
Kini, Riska telah berkecimpung di dunia seni kolase selama lebih dari 13 tahun. Tak lagi sekadar hobi belaka, ia ternyata juga meraih banyak prestasi. Salah satunya berkolaborasi dengan brand Louis Vuitton pada Clara Magazine.
“Nggak nyangka dan lebih ke kaget awalnya itu dikontak orang Clara Magazine mau minta tolong untuk project mereka dengan LV. Nah ternyata mereka order untuk 4 kolase seukuran folio gitu dengan judul pshyco dynamic,” jelasnya.
Selain berkolaborasi dengan jenama ternama, Riska juga sering mengikuti sejumlah pameran hingga lolos pada submission kolase baik di Indonedia maupun di luar negeri. Bahkan, ia turut menginisiasi terbentuknya Komunitas Kolasemauku di Kota Semarang.
BACA JUGA: Uniknya ‘Lumaku Maju’, Ajak Anak Muda Healing dengan Budget 0 Rupiah
Di sisi lain, Riska masih setia melakukan seni kolase secara manual dengan menggunakan tangan daripada teknologi canggih.
Riska mengakui jika seni kolase membawa banyak pengaruh pada kesehatan mentalnya. Baginya, kolase adalah salah satu jalan untuk meluapkan emosi yang tidak bisa ia luapkan dengan cara lain.
“Setelah berkolase jadi punya medium meluapkan unek-unek yang tidak bisa saya ungkapkan, merasa lebih aman dan nyaman untuk menjadi diri sendiri. Kadang saya kolaborasikan dengan narasi, karena saya juga suka menulis,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





