SEMARANG, beritajateng.tv – Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Semarang terus berupaya menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui program UNW on the Street, mahasiswa Pascasarjana ikut dalam kegiatan pengabdian yang menyasar kebutuhan lingkungan dan masyarakat luas.
Direktur Program Pascasarjana UNW Semarang, Prof. Dr. Sudiono Sastroatmojo, M.Si., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata penerapan konsep perguruan tinggi berdampak.
Menurutnya, keberhasilan program pengabdian tidak cukup di ukur dari pelaksanaannya. Tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan keberlanjutan kegiatannya.
“Ukuran perguruan tinggi berdampak itu harus terukur, dirasakan, dan berkelanjutan. Kegiatan ini harus bisa masyarakat luas nikmati tanpa membatasi atau mendiskriminasi siapa pun,” kata Sudiono.
BACA JUGA: Daftar Kampus Swasta Terbaik di Jateng Versi EduRank, Ada Dekat Semarang
Ia menegaskan, UNW on the Street bukan kegiatan seremonial yang berhenti setelah satu agenda selesai. Program tersebut di rancang berkelanjutan dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai angkatan.
Sudiono menyebut, mahasiswa Pascasarjana UNW saat ini berjumlah 631 orang, meski program tersebut baru mulai menerima mahasiswa pada Maret 2025.
Mereka tersebar di empat program studi, yakni Magister Pendidikan, Magister Hukum, Magister Keperawatan, dan Magister Kesehatan Masyarakat.
“Ini baru tahun kedua, tetapi jumlah mahasiswa pascasarjana sudah mencapai 631 orang. Kami ingin potensi tersebut tidak hanya berkembang di ruang kuliah, tetapi juga hadir melalui pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Secara keseluruhan, UNW saat ini memiliki sekitar 7.897 mahasiswa. Sudiono menilai perkembangan tersebut menunjukkan pertumbuhan institusi yang cukup pesat sejak berstatus universitas pada 2016.
UNW Gandeng Instansi untuk Penghijauan
Salah satu bentuk pengabdian yang dikembangkan UNW adalah kegiatan penghijauan. Program Pascasarjana UNW menjalin sinergi dengan instansi terkait untuk mendukung upaya perbaikan lingkungan, khususnya melalui penanaman pohon di wilayah yang membutuhkan.
Sudiono menjelaskan, kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup mencakup sejumlah isu lingkungan, mulai dari pencemaran udara, pengelolaan air, sampah, hingga penanaman pohon.
UNW mengambil peran dalam program penghijauan dan mulai mengidentifikasi kawasan yang membutuhkan penanganan.
“Kami sudah di minta melihat daerah-daerah kritis untuk kegiatan penanaman pohon. Ini menjadi bagian dari upaya UNW membangun sinergi dengan berbagai lembaga sekaligus menjalankan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurut dia, kolaborasi tersebut penting agar kegiatan kampus tidak berjalan sendiri. Dengan melibatkan instansi pemerintah dan masyarakat, program pengabdian harapannya memiliki sasaran yang lebih jelas dan manfaat yang berkelanjutan.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Ngudi Waluyo Ungaran, H. Asaat Pitoyo, S.Kp., M.Kes., juga mendorong pengembangan UNW agar semakin memberi kontribusi bagi masyarakat melalui pendidikan dan kegiatan sosial.
Ia menjelaskan, perjalanan UNW dimulai pada 1994 melalui pendirian Akademi Keperawatan. Institusi tersebut kemudian berkembang dengan penambahan bidang kebidanan dan kesehatan masyarakat sebelum menjadi sekolah tinggi kesehatan pada 2000.
Perkembangan berlanjut hingga 2016, ketika institusi tersebut bertransformasi menjadi universitas. Seiring perluasan bidang keilmuan, UNW kini juga mengembangkan pendidikan hukum hingga jenjang magister.
Asaat menyebut, kehadiran Prof. Sudiono yang memiliki pengalaman memimpin Universitas Negeri Semarang turut mendukung pengembangan Program Pascasarjana UNW, khususnya Magister Hukum.
Magister Hukum UNW Siapkan Lulusan Hadapi Era Digital
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Hukum UNW, Dr. Arista Candra Irawati, S.H., M.H.Adv., mengatakan pendidikan hukum di UNW pengembangannya dengan mengacu pada identitas kampus yang berakar dari bidang kesehatan.
Menurut Arista, konsep budaya sehat tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan psikis, perilaku, dan kepatuhan terhadap hukum.
“Kami ingin menghasilkan lulusan yang sehat secara utuh, taat hukum, cinta kepada negara, serta mampu menjadi teladan di lingkungan kerja maupun masyarakat,” kata Arista.
Program Studi S1 Hukum UNW mulai menerima mahasiswa pada 2017. Pengembangan pendidikan kemudian berlanjut dengan pembukaan Magister Hukum pada 2025.
Arista menjelaskan, mahasiswa Magister Hukum berasal dari beragam latar belakang, baik hukum maupun nonhukum, termasuk bidang kesehatan. Keragaman tersebut menjadi peluang untuk memperluas perspektif dalam memahami persoalan hukum yang berkembang di masyarakat.
Selain memperkuat pemahaman hukum, program magister tersebut juga menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan akibat digitalisasi. Perkembangan teknologi telah memengaruhi berbagai bidang, mulai dari penegakan hukum, pelayanan medis, industri, hingga ketenagakerjaan.
“Jangan sampai perkembangan digital justru membuat kita kehilangan budaya sehat. Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan teknologi sekaligus menempatkannya secara tepat,” ujarnya.
Arista menambahkan, penguasaan aspek digital menjadi bekal penting bagi lulusan yang kelak berkarier sebagai pemimpin, praktisi, maupun peneliti. Dalam penegakan hukum, misalnya, pemahaman terhadap pembuktian digital semakin di butuhkan.
Di bidang kesehatan, digitalisasi juga mengubah cara layanan medis. Perubahan serupa terjadi di sektor industri dan ketenagakerjaan sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami hukum sekaligus mengikuti perkembangan teknologi. (*)





