Viral

Cinta Ruhama Ungkap Tekanan Pelaku Terduga Pemerkosaan: Diminta Bohongi Suami Soal Kehamilan

×

Cinta Ruhama Ungkap Tekanan Pelaku Terduga Pemerkosaan: Diminta Bohongi Suami Soal Kehamilan

Sebarkan artikel ini
tara pemerkosaan
Content creator Cinta Ruhama Amelz saat membagikan cerita dugaan pemerkosaan yang dialaminya pada 2017 silam. (YouTube/Denny Sumargo)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pengakuan mengejutkan datang dari content creator Cinta Ruhama Amelz atau Tara terkait dugaan pemerkosaan yang ia alami pada 2017.

Selain menceritakan kronologi dugaan pemerkosaan, Tara juga mengungkap pernyataan kontroversial yang diduga disampaikan oleh pelaku setelah kejadian.

Setelah peristiwa dugaan pemerkosaan terjadi di sebuah ruangan tertutup di klub malam, Tara mengingat satu hal yang sangat membekas.

Ia menyebut bahwa terduga pelaku sempat mengatakan sesuatu yang mengejutkan terkait kemungkinan kehamilan.

“Ini aku ingat yang aku ingat adalah pada saat ee dia selesai dia ngomong ke aku, Heeh. ‘Kalau misalnya lu hamil, jangan bilang-bilang sama suami lu. Bilangin aja itu anak suami lu.’ Ada ngomong begitu. Dia ngomong gitu ke aku,” kata Cinta Ruhama Amelz, seperti beritajateng.tv kutip dari video podcast Denny Sumargo, Sabtu 4 April 2026.

BACA JUGA: Busuknya Solusi “Nikahkan Saja” sebagai Penanganan Kasus Pemerkosaan dan Kekerasan

Ucapan tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan psikologis yang serius, karena tidak hanya menyangkut kekerasan seksual, tetapi juga potensi manipulasi terhadap kehidupan pribadi korban.

Dampak Psikologis yang Mendalam

Pernyataan itu menjadi salah satu bagian paling traumatis bagi Tara. Dalam situasi yang sudah penuh ketakutan dan tekanan, ucapan tersebut menambah beban mental yang harus ia tanggung.

Korban tidak hanya menghadapi dampak fisik dan emosional dari kekerasan seksual, tetapi juga kemungkinan konsekuensi sosial dan keluarga yang besar.

Tara menjelaskan bahwa pada saat dugaan pemerkosaan itu, ia berada dalam kondisi mental yang sangat terguncang. Ia mengalami respons trauma seperti “freeze” dan kesulitan memproses apa yang terjadi.

“Kayak korban pemerkosa korban kekerasan seksual itu gimana sih kondisi otaknya pada saat itu terjadi gitu. Iya. Ya udah. Eh ya memang ada yang freeze, ada yang sampai ee terjadi disosiasi ya maksudnya,” katanya.

BACA JUGA: Skandal Unsoed: Psikolog Tegaskan Ketimpangan Kuasa Picu Pemerkosaan di Kampus

Dalam kondisi tersebut, korban sering kali tidak mampu memberikan respons atau perlawanan, termasuk terhadap ucapan atau ancaman dari pelaku. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp