“Di jalanan aku menemukan banyak hal yang tidak aku temukan di ruang-ruang kelas. Jadi ngobrol dengan tukang sapu, ngobrol dengan tukang becak, melihat bagaimana seorang ayah harus bekerja dari pagi sampai malam di jalanan menunggu penumpang atau berjualan di beberapa titik. Belum lagi ketika bertemu anak-anak kecil yang tidak sempat sekolah, hanya berjualan koran, mengelap kaca mobil, dan melakukan berbagai pekerjaan untuk bisa bertahan hidup,” tuturnya.
Bagi Syafiq, kultur punk mengajarkan bahwa setiap orang adalah guru, sementara alam semesta merupakan ruang belajar yang tak pernah habis.
Karena itulah, pengalaman hidup orang-orang kecil justru menjadi pelajaran paling berharga yang ia bawa hingga sekarang.
Buku Mengubah Cara Pandang
Meski dikenal sebagai anak punk, Syafiq ternyata memiliki kedekatan dengan buku sejak remaja. Pertemuannya dengan novel bahkan terjadi secara tidak biasa.
Ia mengisahkan pertama kali membaca novel ketika bersembunyi dari kejaran guru di tempat pembuangan sampah saat masih SMP.
“Dikejar-kejar guru, terus ngumpet di tempat pembuangan sampah, nemu novel. Itu pertama kali aku kenal novel,” kenangnya.
Sejak SMA, kebiasaan membaca semakin berkembang. Ia mulai melahap berbagai novel hingga buku-buku sejarah.
Semangat Do It Yourself (DIY) yang menjadi filosofi punk kemudian mendorongnya untuk tidak berhenti sebagai pembaca. Ia mulai menulis kisah-kisahnya sendiri.
Novel pertamanya berjudul Berandal Bermoral terbit saat masih menjadi mahasiswa baru. Setelah itu lahir Joni Melawan Arus dan Catatan Sang Berandal.
Ketiga karya tersebut bahkan mengantarkannya menyelesaikan pendidikan S1 di UIN Walisongo Semarang tanpa harus menyusun skripsi. Fakultas menerima karya novelnya sebagai tugas akhir karena ternilai memenuhi syarat akademik, dengan dukungan aktivitas organisasi dan rekam jejaknya selama kuliah.
“Prinsip DIY itu melakukan sesuatu dengan cara kita sendiri. Jadi enggak cuma membaca, akhirnya aku menulis,” katanya.





